Gaya Lanang

Kenapa Saputangan Pria Belum Punah!

Masihkah saputangan ada di kantong Anda? Atau, ketika berbelanja di mal, sempat melihat-lihat kain katun persegi itu?

Saputangan berbeda dengan pocket square yang sekarang lebih familiar. Yang pertama umumnya tersimpan dalam saku celana. Mungkin Anda termasuk generasi yang berangkat ke sekolah dasar dibekali lipatan kain kecil ini untuk menyeka keringat atau menutup hidung saat bersin. Sementara pocket square diciptakan sebagai dekorasi semata di saku depan jas atau blazer.

Saputangan telah tergantikan perannya oleh kertas tisu seiring semakin efisiennya tren gaya hidup.

“Praktis, sekali pakai bisa langsung dibuang. Nggak menuh-menuhin saku,” komentar fashion designer Elkana Gunawan yang menjadikan pakaian batik pria menjadi modis dan modern.

Meskipun demikian, ia mengakui kalau kain kecil ini tetap memiliki penggemar tersendiri termasuk dirinya. Ada rasa janggal bila tak membawa saputangan.

Namun bila ditelusuri, sesungguhnya aksesori mode di ambang kepunahan ini punya fungsi yang masih relevan dengan gaya hidup modern. Ia menunjang kegiatan sosial, khususnya saat membuka hubungan baru dengan lawan jenis.

saputangan

Bahan katun saputangan lebih menunjukkan fungsi daripada look | Istimewa

Women cry,” tutur Robert De Niro pada Anne Hathaway dan koleganya dalam suatu adegan di film The Intern (2016). Maksudnya, saputangan dibawa pria bukan untuk dipakai sendiri, namun untuk dipinjamkan ke wanita.

Meminjamkan saputangan kepada wanita kenalan, selain untuk mengusap air mata atau demi  tujuan praktis lain menjadi bagian strategi pendekatan pria kepada wanita, terutama yang baru pertama ditemui. Alasannya, keduanya jadi punya alasan untuk bertemu lagi.

Setelah saputangan dipinjam, wanita yang beretika tentulah berkewajiban mengembalikannya dalam keadaan bersih. Pria pun memiliki alasan untuk menemuinya kembali. Jika gebetan tersebut mengembalikan begitu saja dalam keadaan kotor? Lupakan dia. You need a better woman to educate your kids.

Nah bagaimana dengan pocket square? Bukankah sama saja seperti saputangan? Ia pun   merangkap sebagai aksesori?

Menurut Rizal Heru, seorang perencana keuangan yang juga mantan model pria era 90-an, fungsi saputangan tak bisa disamakan dengan pocket square. Bentuknya memang sama-sama kain persegi. Namun, saputangan biasanya berbahan katun agar efektif menyerap cairan.

da-1

Saputangan bisa menjadi alat pemicu kencan selanjutnya | Istimewa

Sementara pocket square umumnya berbahan satin atau sutra, kurang praktis bila digunakan menyeka air mata dan sebagainya. Bahkan, jika Anda bersikeras menjadikan pocket square sebagai substitusi saputangan, apa iya masih terasa higienis setelah hampir separuhnya terpapar debu dengan bertengger di saku depan blazer sepanjang waktu?

Hingga saat ini, saputangan menjadi salah satu aksesori klasik yang tak pernah absen dari perputaran tren. Jangan salah pilih saputangan. Sebagaimana diungkapkan perancang Elkana Gunawan, ukuran saputangan pria biasanya lebih besar daripada saputangan wanita. Ia juga   merekomendasikan saputangan berbahan katun, bukannya satin, agar lebih berdaya guna.

Ada banyak variasi dan model saputangan. Untuk model, mulailah dengan motif polos atau kotak-kotak yang klasik. Bila ingin memperkaya koleksi, Anda boleh melirik beberapa koleksi saputangan yang lebih bergengsi seperti saputangan katun dengan sulaman jacquard dari Hermes.

So, bro, saputangan belum punah dari peradaban modis Anda. Akan ada situasi darurat dimana ia dibutuhkan, bahkan untuk digunakan oleh diri sendiri. Lagipula, tidakkah merepotkan dan menggelikan untuk selalu membawa kertas tisu di dalam tas atau clutch pria berpenampilan maskulin?