Tepat pada hari ini, Selasa (11/10/2016), Indonesia kembali kehilangan sosok heroik yang membanggakan sekaligus menginspirasi. Sosok itu adalah Maulwi Saelan, seorang prajurit yang gagah berani dan penuh dengan prinsip kejujuran.

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Agustus 1926, pria berusia 90 tahun ini meninggal dunia pada Senin malam (10/10/2016), setelah menjalani perawatan di rumah sakit akibat gagal ginjal yang dialaminya sebulan lalu. Setelah disemayamkan di rumah duka, jenazah Saelan pun disalatkan di Al-Azhar Syifa Budi, Kemang, Jakarta. Sekolah Islam yang juga didirikan olehnya.

maulwi-saelan-merdekacomfoto

Alm. Maulwi Saelan Semasa Hidup

Mungkin di antara kita tak banyak yang mengenal nama Maulwi Saelan, tapi siapa sangka, ternyata ia adalah orang begitu punya banyak perjalanan hidup yang sarat akan prestasi dan bersejarah. Sosok heroiknya mulai terlihat sejak remaja ketika dirinya ikut berjuang melawan pasukan khusus NICA yang dipimpin oleh Westerling.

Karangan Bunga Alm. Maulwi Saelan di Al Azhar Kemang | Andika Aditia

Berkat perjuangannya tersebut lantas mengantarkannya ke dunia militer dan menjadi Wakil Komandan Yon VII/CPM Makassar sekitar tahun 50an. Meski telah terjun ke dunia militer, kecintaan Saelan akan olahraga tak memudar.

Tercatat pada 17 November 1956, ia dipercaya menjaga mistar gawang timnas Indonesia saat melawan Uni Soviet dalam perhelatan Olimpiade di Melbourne, Australia. Ketangkasannya pun membuat Indonesia berhasil menahan imbang Uni Soviet tanpa gol. Hal itu menjadi capaian yang belum tergantikan sampai saat ini, terlebih kala itu Uni Soviet meraih medali emas untuk cabang sepak bola.

Tak berhenti sampai di situ, Saelan juga berhasil menjadi Ketua Umum PSSI pada 1964, menggantikan Abdul Wahab Djojohadikoesoemo. Hingga kini ia masih menjadi kiper timnas dengan prestasi yang disegani.

Kecemerlangan prestasi Saelan terus berlanjut, setelah berprestasi di bidang olahraga, ia pun merasakan posisi strategis di karier militernya. Ketika satuan pengawal presiden atau Resimen Tjakrabirawa dibentuk pada 1962, Saelan dipanggil dan dijadikan sebagai kepala staf lalu menjadi wakil komandan dari resimen tersebut dengan pangkat Kolonel CPM.

Namun sayang, keruhnya arus politik pada 1965 membuat Saelan diseret ke dalam peristiwa tersebut. Statusnya sebagai pengawal Presiden Soekarno yang loyal tak membuatnya bebas dari tudingan. Ketika ia tak lagi mengawal Soekarno setelah berakhir kekuasaannya pada 1967, Saelan diinterogasi di markas Kopkamtib seputar keterlibatan Bung Karno atas peristiwa 65.

http://buku.kompas.com/getmetafile/92e72287-098b-4c38-99ea-5a83a68ee7b7/MAULWI-SAELAN-0901-2013-CO-K_1.aspx?maxsidesize=960

Buku tentang Alm. Maulwi Saelan | Ist.

Pemeriksaan tersebut harus berujung pada pemenjaraan terhadap dirinya tanpa diadili selama lima tahun lebih tanpa sebab yang pasti. Ia ditahan di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, selama 4 tahun 8 bulan, dan kemudian dipindahkan ke Rumah Tahanan Nirbaya selama setahun.

Prinsip kejujurannya yang kuat membuat ia tetap kukuh atas peristiwa 65 sampai dirinya bebas. Menurutnya sejarah haruslah diluruskan. Hal itu pula yang membuatnya memberikan kesaksian peristiwa 65, saat reuni antar pengawal revolusi tahun 2002.

“Saya tidak menulis otobiografi, tetapi bertekad meluruskan kesalahpahaman sejarah. Khususnya, tuduhan keterlibatan Bung Karno pada Peristiwa G30S yang pada dasarnya creeping coup d’etat, kudeta perlahan-lahan,” ucap Saelan dalam kesaksiannya.

Selamat jalan Maulwi Saelan, semoga semangat perjuanganmu akan terus hidup dan memotivasi generasi muda.