Fashion

Adidas & Puma, Kakak Beradik Meraih Sukses Dari Konflik

Segerombolan anak remaja berjalan santai di lorong kafe dengan penuh percaya diri. Mereka terlihat bangga dengan sepatu yang mereka kenakan. Seorang dari mereka mengatakan jika sepatunya lebih keren, yakni Adidas, lalu temannya pun menimpali dengan tak mau kalah “Nih Puma gue lebih oke,”.

Terlepas dari perdebatan sepele tersebut, Adidas & Puma memang telah bersaing lebih dari 60 tahun lalu, dan ternyata mereka adalah kakak beradik yang memang lahir dari keluarga pembuat sepatu. Adidas & Puma lahir dari sebuah perusahaan bernama Gebrüder Dassler Schuhfabrik, yang dibuat oleh Christoph Dassler, ayah dari Rudolf Rudi Dassler (Puma) dan Adolf Adi Dassler (Adidas).

Roman Picisan

Sejak awal, Rudolf dan Adolf sudah membagi perannya masing-masing dalam menjual sepatu. Adi sejak usia 20-an sudah membuat sepatu sendiri, ia memang sudah diajarkan ilmu untuk menghindari cacat produksi pada sepatu. Sedangkan sang kakak Rudi harus mempertaruhkan nyawa dulu sebelum ikut berbisnis sepatu, ia harus membela negaranya Jerman di Perang Dunia I.

adidas---puma3

Rudolf Rudi Dassler (kiri) dan Adolf Adi Dassler (kanan) saat masih bersama | Dok. Istimewa

Setelah pulang dari perang, Rudi sempat mengikuti pelatihan kepolisian, namun akhirnya Rudi merasa lebih baik berdagang ketimbang menjadi aparat. Setelah melewati masa sulit pasca Perang Dunia I, sepatu Dassler bersaudara tampil di Olimpiade sejak 1928. Sepatunya digunakan oleh atlet legendaris Jesse Owens dalam meraih juara, bahkan mengalahkan atlet andalan Adolf Hitler, yakni Luz Long. Kisah unik ini pun diabadikan dalam film Race (2016) dan Jesse Owens (2012).

Kemerdekaan mereka dalam berbisnis sepatu pun harus berubah ketika NAZI menguasai Jerman. Peraturan Hitler memaksa Rudi, Adi dan Fritz Dassler menjadi anggota NAZI sejak 1 Mei 1933, atau 3 bulan setelah Hitler menjadi penguasa. Kebijakan ini pula yang mengatarkannya ke dalam dunia militer sekaligus akhir dari romansa Dassler bersaudara. Pada masa Perang Dunia II, mereka memproduksi sepatu boot militer untuk tentara Jerman berperang. Ironisnya mereka berdua sendiri pada saat itu harus menjalani wajib militer, Adi selama setahun menjalani pendidikan militer. Sedangkan Rudi lebih sial lagi, ia ikut berperang sampai tertangkap tentara Amerika, beruntung ia dibebaskan.

Konflik

Ketika Perang Dunia II hampir usai dan Jerman berada di ambang kekalahan, Rudi dan Adi tetap fokus membangun bisnis sepatu mereka. Sampai akhirnya Jerman runtuh dan jatuh ke tangan musuh, mereka berdua pun mulai dihinggapi berbagai permasalahan yang akhirnya mengantarkan keduanya pada persaingan abadi.

Banyak versi mengenai perseteruan mereka, pertama adalah karena Rudi berselingkuh dengan istri Adi, Kathe, sehingga ia tak pernah dimaafkan oleh Adi. Lalu yang kedua adalah keduanya berselisih pendapat karena perbedaan pandangan politik / ideology NAZI. Dan yang ketiga adalah serangan sekutu dari udara. Ketika Adi dan istrinya berlari ke tempat pengungsian, ia mendengar Rudi, yang sudah lebih dahulu ada di sana bersama istrinya, berkata: Si Schweunhunde (umpatan sangat kasar) balik lagi."

adidas---puma

Adolf Adi Dassler dengan Adidas-nya dan Rudolf Rudi Dassler dengan Puma-nya | Dok. Istimewa

Rudi menjelaskan kepada saudaranya bahwa umpatan itu dimaksudkan untuk sekutu. Namun Adi tak mau percaya.

Sejak saat itu keduanya pecah kongsi dan memutuskan untuk tak lagi satu perusahaan. Pada pertengahan 1940-an, Rudi pindah ke seberang sungai yang berada di pabrik lamanya, mendirikan pabrik baru, sementara Adi mengelola pabrik lama.

Sponsored Links

Keduanya sepakat untuk berpisah secara terhormat meskipun banyak kisah pedih menyelimuti perpisahan mereka berdua. Rudi membawa separuh mesin sepatu dan membangun pabriknya di sisi lain Sungai Aurach. Ia menamai sepatunya dengan nama Puma. Simbolnya adalah singa gunung (puma) sedang menerjang.

Sementara  Adi menggunakan namanya sendiri, gabungan nama panggilannya dan potongan nama keluarganya ("Dassler" menjadi "Das") lalu terciptalah: Adidas, pada tahun 1949. Perpisahan mereka begitu mempengaruhi masyarakat kota Herzogenaurach, Jerman, tempat Rudi dan Adi lahir. Pertikaian mereka ibarat membangun tembok Berlin sendiri. Perpecahan Adi dan Rudi menular pada penduduk kota yang berjumlah 23 ribu saat itu. Pegawai Adidas dan pegawai Puma akan pergi ke restoran, bar, serta pasar yang berbeda untuk berbelanja. Dalam beberapa kesempatan pun pegawai pabrik Adidas dilarang berhubungan dengan pegawai pabrik Puma.

Lebih jauh lagi, perseteruan mereka sampai menyentuh agama dan haluan politik, Adidas dan Puma juga seolah memiliki garis pemisah yang tegas. Puma menjadi perusahaan dengan haluan politik konservatif dengan banyak pegawai menganut Katolik, sementara pegawai Adidas menganut Protestan dengan haluan politik Sosial Demokratik. Perseteruan ini mereka bawa sampai mati, tapi karena ini pula keduanya saling berlomba menciptakan sepatu terbaik.

adidas---puma2

Petinggi perusahaan Adidas (kiri) dan Puma (kanan) ketika bertemu dalam pertandingan perdamaian "Peace One Day", pada 18 September 2009 | Dok. Peace One Day

Meski begitu, perseteruan keduanya tetap mengalir darah kakak beradik. Ketika di era 50-an Puma sudah lebih popular ketimbang Adidas, banyak klub sepak bola Jerman menggunakan sepatunya. Adidas susah payah mengejarnya. Namun keberuntungan berbalik ketika pelatih timnas Jerman ditolak mentah-mentah oleh Rudi karena penawaran bisnis yang merugikan. Lalu sang pelatih pun merapat kepada sang adik, Adi Dassler, dengan mudah Adidas menerimanya sebagai kesempatan.

Jerman yang belum diperhitungkan dalam sepak bola Eropa secara mengejutkan mengalahkan Negara hebat Hungaria dalam kompetisi Eropa. Kemenangan ini membuat Adi Dassler ramai diberitakan, kesuksesan ini pun dilihat oleh Rudi yang dengan tulusnya mengirimkan surat ucapan selamat kepada sang adik.

Ada satu kisah menarik kenapa Adidas memiliki logo tiga garis, hal itu ketika Adi melihat pemain bola yang menggunakan Puma dan Adidas di lapangan. Lalu Adi memanggil pemain yang menggunakan Adidas, lalu menempelkan tangannya ke tiang yang baru saja di cat putih. Kemudian Adi pun mengoleskan tiga jarinya ke sepatu Adidas, dan jadilah logo sampai saat ini.

Namun kini, perselisihan antar keduanya baru “diselesaikan" pada 2009, ketika melalui satu pertandingan persahabatan sepak bola. Para pegawai Adidas dan Puma bermain dalam pertandingan persahabatan yang menandai gencatan konflik antar keduanya. Demikianlah kisah panjang kedua sepatu ini.