Sains

Antara Trump, Survei dan Facebook yang Bocor

Facebook sebagai media sosial terbesar dengan pengguna lebih dari 1 miliar kembali membuat kejutan. Namun kejutan yang kali ini diberikan bukanlah keunggulan, melainkan sebuah kelemahan yang mengejutkan. Itu karena Facebook baru saja lalai dengan kebocoran data penggunanya, tak main-main, sebanyak 50 juta data pengguna bocor, kok bisa?

Hal ini berawal ketika Cambridge Analytica (CA) dilaporkan terlibat dalam skandal kebocoran 50 juta data pengguna Facebook. Firma yang pernah bekerja dengan tim kampanye Donald Trump saat pemilihan presiden pada 2016 itu dituduh menggunakan jutaan data pengguna untuk membuat sebuah software yang bisa memprediksi dan memengaruhi pemilihan suara. Awalnya hanya isu saja, namun setelah dilakukan pembuktian ternyata kebocoran data pengguna tersebut benar-benar terjadi.

Media sosial yang juga pemilik dari Instagram dan Whatsapp ini pun menjadi buruan para penggunanya, tak terkecuali sang pemilik sekaligus CEO Mark Zuckerberg. Kebocoran ini terjadi ketika Aleksandr Kogan salah satu Pengembang Aplikasi Facebook yang juga seorang akademisi membuat sebuah penelitian berbalut kuis untuk mengetahui kepribadian pengguna Facebook. The Straits Times menyebutkan jika Kogan telah memiliki akses ke data para pengguna Facebook sejak tahun 2007. Kogan bisa mendapatkan akses tersebut setelah menjadi pengembang aplikasi. Kogan sendiri memang diketahui membuat aplikasi yang merupakan strategi untuk survei psikologi pengguna.

Dikutip dari Bloomberg, Mark Zuckerberg mengatakan, pada Jumat (16/03/2018), jika perusahaan konsultan dan advertising Cambridge Analytica mendapatkan data dari pengembang aplikasi di jaringan sosialnya, di mana ini   melanggar kebijakan Facebook. Akibat hal ini Cambridge Analytica memegang 50 juta data pengguna secara ilegal.

Sponsored Links

Sementara sang pengembang aplikasi yang terlibat masalah ini Aleksandr Kogan mengaku tak tahu-menahu jika hasil penelitiannya akan dipakai untuk tujuan politik, terlebih digunakan oleh tim sukses Donald Trump. Hal tersebut ia katakan kepada Anderson Cooper saat diwawancara oleh CNN, Rabu (21/03/2018), "Mereka awalnya mengajakku untuk melakukan kerja konsultasi," ucap Kogan kepada Anderson Cooper.

Data pengguna yang didapatkan oleh Cambridge Analytica diduga untuk mempermudah tujuan politik Donald Trump yang saat itu mengajukan diri sebagai presiden. Dugaan ini bersumber dari Steve Bannon, yang pernah aktif di Cambridge Analytica. Bannon sendiri diketahui pernah aktif sebagai anggota penasihat Trump mulai dari masa kampanye sampai akhirnya dipecat ketika Trump telah menjadi Presiden Amerika Serikat dengan mengalahkan Hillary Clinton.

Akibat permasalahan serius ini Parlemen Amerika Serikat dan Eropa ingin bertemu dan mendengar langsung pernyataan langsung dari Mark Zuckerberg, tentang bagaimana Cambridge Analytica bisa mengambil data pengguna tanpa izin. Mengingat penggunanya yang juga banyak di Indonesia, Menteri Komunikasi & Informasi pun sampai angkat bicara, Rudiantara memprediksi, sejauh ini tak ada data pengguna dari Indonesia yang bocor. Rudiantara juga akan berkoordinasi kepada Facebook untuk memastikan soal kemungkinan kebocoran data pengguna di Indonesia yang ikut bocor.

Sentimen publik yang meningkat atas masalah ini mengatarkan pada citra buruk Facebook. Bahkan pada Senin (19/03/2018), saham Facebook merosot sampai 6,8 persen dan memakan kekayaan Mark Zuckerberg sebesar US$ 70,4 miliar. Seruan untuk meninggalkan Facebook pun terdengar dibanyak Negara, imbas terbesarnya adalah kepercayaan pengguna terhadap media sosial akan kerahasiaan data mereka. Bagaimana kalau menurut sobat lanang?