Relationship

Apakah Kalian Monogami Sejati?

Membahas soal monogami dan poligami (untuk objeknya mari kita sebut sebagai poligamus dan monogamus)sebenarnya cukup terkait dengan persoalan kesetiaan, walaupun bukan berarti seorang poligamus adalah seorang pria yang tak setia.

Kami tidak akan menghakimi mana yang lebih baik antara monogami atau poligami, tapi dalam artikel ini kita hanya akan memberikan sederet poin yang bisa menjadi referensi apakah kalian seorang monogami sejati atau bukan.

Merasa Bisa

Pernahkah kalian merasa nyaman-nyaman saja menjalani beberapa hubungan sekaligus? Jika ya maka ini adalah sinyal paling dasar bahwa kalian siap secara psikologis menjadi poligamus. Sebaliknya jika dalam satu waktu kalian kesulitan membangun komunikasi dengan wanita lain karena sudah memiliki pacar bisa jadi kalian adalah monogamus.

Poligamus berbeda dengan serial daters yang cenderung tak mau terikat, mereka tidak masalah membuat komitmen dengan dua wanita atau lebih. Tapi biasanya seorang poligamus trainee(poligamus yang belum menikah) tidak akan mau menguak sistem yang mereka jalani pada pacar-pacarnya.

Macho Things

Sudah pernah dibahas sebelumnya jika pria macho cenderung bangga dengan hal-hal yang berbau jantan. Bagi kalian yang merasa macho punya potensi lebih tinggi untuk menjadi poligamus daripada pria yang merasa dirinya adalah gentleman. Seorang gentleman lebih sensitif terhadap keadaan lingkungan mereka, sekalipun ada kesempatan seorang gentleman tentunya akan lebih memilih posisi sebagai monogamus.

Sponsored Links

Cheater

Berdasarkan studi di Amerika Serikat ditemukan bahwa 50% pria menikah pernah memiliki affair pada titik tertentu dalam pernikahannya. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen untuk setia pada satu pasangan adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Tidak sedikit pola poligami yang terjadi di sini dimulai dengan perselingkuhan. Jadi bagi kalian yang memiliki riwayat selingkuh sangat memungkinkan kalian berada di pihak poligamus.

Sisi Religi

Praktik poligami dibahas secara detail dalam aturan agama-agama. Hal ini membuat poligami lebih mungkin dilakukan oleh pria-pria yang dekat dengan agama. Di pihak lain pria-pria modern yang agak jauh dari agama cenderung lebih kontemporer dengan isu-isu gentleman dan kesetaraan gender.

Pada akhirnya menjadi monogamus atau poligamus adalah pilihan hidup. Dua pihak ini memiliki sistem dan aturan yang jelas bahkan hingga ke ranah keyakinan. Yang masih menjadi persoalan adalah stigma negatif yang masih menempel pada status poligami di sini karena praktiknya yang seringkali disalahgunakan. Jadi apa pilihan kalian bro?