News

Badak Putih Jantan Satu-satunya Di Dunia Mati

 

Bumi sebagai satu-satunya planet yang ramah terhadap berbagai mahkluk hidup tentunya membuat banyak spesies hidup dan tinggal berdampingan di alam. Mulai dari Manusia, Hewan dan tumbuhan bergantian saling mengisi siklus kehidupan di bumi, semuanya saling berkaitan satu sama lain. Salah satu hewan yang unik dan eksotis adalah badak putih (Ceratotherium simum) yang merupakan salah satu dari lima spesies badak yang masih ada dan salah satu dari sedikit spesies megafauna yang tersisa.

Hewan yang hidup di Benua Afrika ini adalah hewan darat besar yang masih ada di dunia setelah gajah, bersama dengan badak India dan kuda nil. Namun sayang, kabar terbaru menyebutkan jika badak putih jantan satu-satunya di dunia telah mati karena usia yang menua dan berbagai komplikasi penyakit di tubuhnya. Dengan kematian badak putih jantan satu-satunya ini sudah bisa dipastikan jika kepunahan spesies badak putih tinggal menunggu waktu.

Kabar ini dipastikan setelah Pusat konservasi hewan di Kenya mengumumkan, satu dari tiga ekor Badak PutihUtara terakhir di dunia mati, Selasa (20/03/2018). Badak Putih Jantan yang bernama Sudan tersebut diketahui terpaksa disuntik mati oleh tim dokter hewan dari balai konservasi OI Pejeta. Usia Sudan yang sudah menginjak 45 tahun, penurunan fungsi otot dan tulang, serta luka di kulit yang semakin meluas menjadi faktor kenapa badan putih jantan satu-satunya ini sulit untuk diselamatkan. Dalam 24 jam terakhir bahkan Sudan tak mampu lagi untuk berdiri.

Kematian Sudan, memastikan jika spesies badak putih jantan telah punah di dunia. Kini spesies badak putih di dunia yang tersisa tinggal dua dan semuanya adalah betina. Penurunan populasi drastis pada badak di dunia didasari oleh hal sepele, yakni cula yang dimiliki badak. Meskipun tak ada bukti ilmiah, banyak orang di Vietnam dan Cina meyakini jika pil yang terbuat dari cula badak bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan masalah kesehatan. Selain itu banyak orang di Amerika dan Eropa menjadikan cula badak sebagai material untuk membuat aksesoris dengan nilai tinggi.

Tercatat sejak tahun 2008, para pemburu di Afrika Selatan telah membunuh hampir 3.000 badak. International Union for Conservation of Nature memperingatkan badak bisa punah sebelum tahun 2026. Badak putih utara, yang sebenarnya berwarna abu-abu, sudah punah di alam liar. Hanya tiga ekor subspesies ini yang masih hidup dan semuanya ditangkar, dua betina dan hanya satu jantan, yang diberi nama Sudan. Namun kini Sudan pun akhirnya menyusul kawanannya yang telah mati.

Dikutip dari Reuters, Selasa (20/03/2018), Tim konservasi telah berusaha membuat Sudan kawin secara alami. Namun selalu gagal untuk dilakukan. Bahkan, Sudan sempat dicarikan jodoh melalui aplikasi kencan Tinder, dengan harapan bisa menggalang dana demi mencukupi biaya perawatan kesuburan yang membutuhkan biaya senilai US$ 9 juta.

Meskipun sangat kecil peluangnya, namun kepunahan badak putih utara masih bisa diselamatkan. OI Pejeta sempat mengumpulkan materi genetik Sudan sebelum kematiannya. Materi itu, diharapkan bisa digunakan kemudian hari untuk melakukan fertilisasi in vitro (IVF), atau lebih dikenal dengan proses bayi tabung. Nantinya dokter hewan akan berusaha melakukan inseminasi buatan kepada dua betina yang masih hidup untuk menyelamatkan badak putih dari kepunahan.

Sedangkan untuk badak putih selatan jumlahnya masih cukup melegakan, ada ribuan badak putih selatan yang masih berkeliaran di dataran sub-Sahara Afrika. Namun ini akan menjadi sia-sia dan tetap terancam punah jika tak ada bukti nyata untuk menjaganya. Badak Putih Utara yang diambang kepunahan merupakan dampak dari perburuan bebas. Culanya di pasaran bisa mencapai US$50.000 per kilo, membuat mereka lebih berharga daripada emas. Tapi yang perlu dicatat adalah jika mencabut culanya sama saja dengan mencabut nyawanya. Kenya sendiri pernah memiliki 20.000 badak pada tahun 1970-an, lalu turun sangat drastis menjadi 400 pada tahun 1990-an. Sekarang hanya sekitar 650, yang hampir semuanya badak hitam.