News

Bagaimana Kpop Mempengaruhi Dunia?

Di era kini, kita sedikit dibingungkan dengan selera wanita dalam menilai pria. Dulu pria yang kemayu dan tak gagah sudah pasti dijauhi layaknya penderita kusta. Namun kini justru pria seperti itu digemari layaknya Don Juan, lihat saja Oppa-oppa Kpop. Memang stigma pria maskulin sedikit bergeser akibat isu LGBT yang belakangan menguat, tapi bukan berarti semuanya seperti itu.

Sang Presiden kita Joko Widodo sering terdengar berteriak soal mengejar ketertinggalan dengan teknologi dan kreativitas. Itu sangatlah tepat untuk dilakukan saat ini. Lalu apa kaitannya Kpop dengan teknologi dan kreativitas? Mari kita ulas bersama, sobat lanang.

Untuk semua sobat lanang yang tak menyukai kehadiran Kpop, tak perlu terlalu membencinya tanpa alasan. Sebab kini dia menjadi budaya populer yang membuat seluruh dunia demam. Beberapa dekade lalu, Negara-negara Asia mulai mengejar ketertinggalan global lewat ‘ekspansi budaya’. Kita mulai dengan Jepang, produknya dihina, mobilnya dicap kaleng krupuk. Tapi lihat sekarang, Toyota menjadi perusahaan dengan brand value nomer 7 dan tertinggi di bidang otomotif.

Jepang menawarkan dagangannya bukan hanya sekedar berjualan, tapi juga mengekspansi budayanya. Kini siapa yang tak tahu Sushi, ramen atau udon? Atau band-band Japan Rock? Beberapa dekade kemudian Cina mulai melihat ini sebagai peluang untuk melakukan hal yang sama. Tentu masyarakat Indonesia sendiri sudah trauma dengan sepeda motor Cina, tapi namanya teknologi, tak ada yang langsung sempurna. Kini ponsel pintar Cina paling laris di dunia dan mendominasi populasi ponsel hampir di tiap Negara. Ia pun masuk dengan mengakrabkan masyarakat suatu Negara dengan budaya Cina.

kpop-1

Kim Taeyeon, penyanyi solo wanita Korea yang terkenal | Dok. Istimewa

Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Korea Selatan melakukan hal yang sama. Mungkin benar prinsip “Kalau sudah suka budayanya, sudah pasti suka produknya”. Langkah Korea Selatan mungkin lebih gila lagi, bahkan patut ditiru oleh Indonesia. Setelah Kpop dengan Oppa-oppa-nya melanda, Pemerintah Korea Selatan melakukan hal diluar dugaan.

Kementerian Budaya, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan bersama dengan Instituto Nacional de Bellas Artes dan Korean Cultural Center menyelenggarakan K-pop Academy di beberapa Negara, salah satunya Meksiko. Ini adalah upaya negara tersebut untuk lebih memperkenalkan budaya mereka ke dunia Internasional.  Program selama 10 pekan ini dibagi menjadi dua, enam pekan pertama berisi pelajaran mengenai lirik Korea, menguasai pengucapan dalam bahasa Korea, latihan vokal dan tarian.

Negara seperti Meksiko sendiri yang sulit menerima suatu budaya baru, mengalami kecanduan akan Kpop. Korean Cultural Center Meksiko mencatat, lebih dari 140.000 warga diperkirakan menjadi bagian dari 80 perkumpulan apresiasi budaya Korea di Meksiko. Negeri para kartel seperti Meksiko pun bisa ‘meleleh’ saat melihat Kpop.

Dan apa dampaknya pada Korea Selatan sendiri? Kita semua tentu tahu, Samsung adalah ponsel pintar besutan negeri gingseng tersebut, kini penjualannya meroket, anak-anak muda pencinta Kpop pun membelinya karena alasan tersebut. Lalu kini destinasi wisata menuju Korsel meningkat tajam, bahkan menggeser Jepang untuk kawasan Asia Timur. Bahasa Korea seperti Sarang Hae yo, Heol, Jjang-iya, Sa cha won dan Hwaiting mendadak menjadi kata yang laris di Google search.

Oke, kita sudah berbicara bagaimana dampak positif Kpop terhadap Korea Selatan. Pasti sobat lanang bertanya-tanya bagaiamana dunia bisa jatuh cinta padanya, dan faktor apa yang mempengaruhinya.

Dalam penelitian yang dibuat oleh Prof. Patrick A. Messerlin dalam The K-pop Wave: An Economic Analysis (2013). Ditemukan bahwa “artis K-Pop memperlihatkan kesopanan dan pengendalian diri” dan “bekerja keras dan belajar lebih banyak” selama penampilan publik, sesuatu yang artis pop Barat tidak lakukan. Musik mereka “baru, warna-warni dan ceria”, dan bukan “sebuah orde lama”.

kpop-2

Aktor Song Joong-ki dengan seragam militer yang menjadi strategi pemerintah Korea agar wajib militer disukai anak muda | Dok. Istimewa

Energi positif Kpop seolah-olah seperti mengatakan ‘Kami memahami masalah kalian, kami pernah melalui hal serupa’. Yang dimaksud Profesor Patrick Messerlin adalah mengacu pada salah satu latar sosial Korea Selatan, yakni Perang Korea dan krisis ekonomi di akhir tahun 1990-an. 

Menurut John Seabrook seorang jurnalis The New Yorker, Kpop adalah perpaduan bukan hanya antara Barat dengan tradisional tetapi antara yang lama dengan yang baru. Musiknya menguatkan komponen suara sedikit mengganggu yang dibikin dengan synths terbaru yang diperkaya dengan gerakan tempo urban.

Apa pendapat kalian soal ini? Tetap membencinya atau coba belajar darinya? Hal yang sudah terlanjur populer akan sulit dihindari, yang bisa kita lakukan adalah membuat hal serupa yang lebih hebat. Kita kaya akan budaya dan seharusnya bisa.