News

Bagaimana Radikalisme Tumbuh dan Cara Meredamnya?

Aksi teror kembali menyelimuti tanah air tercinta. Belum usai keheningan terkait peristiwa kerusuhan yang menelan korban 5 Polisi dan menewaskan  1 Teroris, Rabu (9/5/2018) di Rutan Mako Brimob cabang Salemba, Depok. Kini rentetan aksi terror kembali terjadi, tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur justru menjadi sasaran pengeboman yang mengakibatkan belasan orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka. Tak hanya itu, pada malam harinya, ledakan kembali terjadi di rusunawa Wonocolo, Sidoarjo yang menewaskan tiga orang. Pagi tadi, 14 Mei 2018, bom kembali meledak di Polrestabes Surabaya. 

 

Bagaimana itu bisa terjadi dalam waktu berdekatan di saat aparat sedang mengetatkan keamanan? Peristiwa terror ini secara otomatis menjadikan Indonesia pusat perhatian, terlebih, Indonesia akan menggelar pesta olahraga terbesar di Asia, yakni Asian Games 2018. Terjadinya aksi teror yang tersebut pun tak bisa lepas dari paham radikalisme yang sering dibicarakan. Lalu bagaimana radikalisme itu sendiri bisa tumbuh?

Sponsored Links

"Radikalisme biasanya tumbuh akibat adanya tiga kekosongan. Yakni kekosongan isi kepala, kekosongan isi hati dan kekosongan isi perut. Tiga faktor itu yang sangat menentukan tumbuh tidaknya paham radikalisme di dunia,” kata Wawan Purwanto.

"Masalah kekosongan isi perut berhubungan dengan kesenjangan sosial. Dari masalah perut, seseorang jadi mudah di kompori dan di masuki paham-paham radikal,” tambah Wawan.

Faktor inilah yang biasanya juga dimanfaatkan kelompok-kelompok jaringan radikal tertentu untuk mempengaruhi sikap dan pikiran seseorang. Kemudian, selanjutnya akan membenturkan dengan keadaan hidup dan kondisi orang lain guna mencari pembenaran.

Hal ini juga dibenarkan oleh Karin Von Hippel dalam studinya berjudul the  role  of  terrorism  in radicalization  and  terrorism,Center  for  Strategic  and International Studies (2009). Ia mengemukakan bahwa kemiskinan  akan  memungkinkan  seseorang  mudah berbuat  radikal  dan  melakukan  aksi  teror  sebab  mereka tertarik untuk mendapat bantuan jasa (charity) dari pihak lain.  Hipel  memberikan  contoh  bahwa  beberapa kelompok  dapat  melebarkan  pengaruhnya  hanya  dengan memberikan  bantuan  jasa  terhadap  masyarakat  miskin. Menurut  Hippel,  kelompok  teroris  telah  meluaskannya pengaruhnya  dan  mendapatkan pengikut  banyak  karena bantuan  (charity)  yang  mereka  berikan.

Dr. Kett C. Maria  Dalam  risetnya, ‘Terrorism  and  Game  Theory: Coalitions,  negotiations  and  audience  costs’ (2003), Department of Government & Society, University of Limerick, Ireland.   juga  mengatakan  bahwa  untuk menghindarkan  potensi  kekerasan  atau  tindakan  teror, pemimpin  dalam  sebuah  Negara  demokrasi  harus  mempunyai kemampuan  merespon  kemauan  kelompok  radikal  yang  pada gilirannya mengurangi  informasi  yang  tidak  simetris sehingga potensi konflik bisa diminimalisir.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikalisme sendiri berarti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis atau sikap ekstrem dalam aliran politik. Lalu benarkah meledakkan bom dan mengatasnamakan agama jadi pembenaran? Rasanya, semua agama mengajarkan apa yang kita sebut kasih sayang, baik sesama manusia dan kepada alam yang kita tinggali. Mari kita jaga bersama rasa persaudaraan, sikap terbuka atas banyak hal akan menguatkan kita dari perbedaan yang ada.