Karier

Beda Negara, Beda Budaya Kerja

Tentu kita tahu istilah lain ladang lain belalang, ternyata hal ini juga berlaku dengan dunia kerja. Akar budaya, sosial dan aturan publik yang ada di tiap negara secara tak langsung membentuk budaya kerja kepada tiap penduduknya. Hal ini pun akan tetap mereka bawa meski bekerja di negara lain.

Sebenarnya perbedaan budaya kerja adalah hal biasa selama kita mampu beradaptasi dengan hal tersebut. Karena jika kita memahami budaya kerja di banyak negara, maka itu salah satu bukti kesiapan diri menghadapi medan kerja, terlebih di era MEA dan AFTA yang menuntut kompetisi serius.

Jepang

Sebagai salah satu negara di belahan bumi timur yang sangat maju dan produktif. Perusahaan-perusahaan di Jepang sangat menjunjung tinggi kolektivitas antar karyawan. Keberhasilan atas suatu pencapaian adalah hasil kerja tim, bukan individu.

Mengakui suatu kesuksesan secara sepihak adalah hal paling tabu di Jepang, karena mindset yang tertanam tentang kesuksesan di negara ini adalah milik bersama.

Jerman

Budaya kerja di Eropa cenderung lebih individualis, salah satunya Jerman. Menurut Sulistyo Rini, Pengurus Harian Pusat Studi Jerman UGM, yang pernah bermukim di negeri Der Panzer tersebut mengatakan, jika setiap orang Jerman sudah mengetahui porsi kerja masing-masing, mereka akan fokus dengan dirinya masing-masing.

Menurut Rini, sering kali karyawan tidak mengetahui nomor telepon teman satu kantor lainnya karena minimnya interaksi di luar urusan pekerjaan. Hal itu semata-mata dilakukan untuk memaksimalkan profesionalisme karyawan.

Amerika

Negeri Paman Sam ini merupakan salah satu negara yang menempatkan jatah cuti sebagai tunjangan dan bukan hak. Menurut Fotografer Landscape Hendartyo Hanggi Wicaksono, persoalan cuti yang menjadi tunjangan adalah karena peraturan negara tersebut yang menentukan seperti itu.

Menurutnya, ketentuan tentang liburan yang ditanggung, cuti sakit dan libur nasional tergantung pada tawar menawar antara perusahaan dengan pekerja. Cuti di Amerika adalah hadiah istimewa bagi pekerjanya. Dengan peraturan itu, loyalitas karyawan terhadap pekerjaannya bisa cukup tinggi.

Budaya kerja yang telah terbangun adalah bentuk interaksi panjang antar pekerja dalam waktu lama. Tak ada budaya kerja yang lebih baik dan buruk, mengalami cultural shock karena perbedaan itu adalah hal wajar. Tak perlu kaget, tak perlu ragu, selama halal gas teruus bro!