Tekno Otomotif

Belajar Nasionalisme Dari Teknologi

Kita baru saja merayakan Hari Pahlawan pada 10 November lalu, peringatan ini menjadi salah satu momen untuk mengukur sejauh mana rasa nasionalisme kita pada Negara. Lalu di zaman sekarang, kita mungkin agak diburamkan dengan bagaimana seharusnya nasionalisme di era kini.

Kita memang tak perlu lagi mengangkat senjata dan berperang, setidaknya kini kita bisa menunjukkan nasionalisme kita dengan teknologi apa yang kita pakai. Ya, di era serba canggih ini teknologi bisa mengajarkan kita bagaimana seharusnya menunjukkan nasionalisme.

Dalam hal ini kita ambil contoh pada Negara Jepang, jika sekarang Jepang bisa menerapkan kebijakan ekonomi dumping karena nasionalisme warganya, tapi tidak dengan dahulu. Pada era 1960-an, masyarakat Jepang lebih memilih produk AS karena dianggap lebih prestisius. Pada saat itu masyarakat Jepang menganggap produk buatan negaranya adalah barang murah dengan kualitas payah.

Tapi tak butuh waktu lama Jepang untuk bangkit, cukup 10 tahun untuk Jepang bisa mengibarkan benderanya di hati masyarakat Jepang dan dunia. Jika dulu pasar mobil dikuasai oleh Jerman, kini Jepang lewat Toyota menjadi produsen mobil paling mendominasi di dunia. Jepang pun mengubah wajah-wajah industry teknologinya, lihat saja, produsen kamera yang diwarnai dari Jepang. Setelah itu masyarakat mulai menanamkan pola pikir jika produk negaranya akan semakin maju jika mereka juga menggunakannya. Dan jadilah Jepang sebagai salah satu Negara dengan industry teknologi terbaik di dunia.

Tak hanya sampai di Jepang, Cina juga mengalami hal yang sama. Negeri Tirai Bambu ini punya stigma buruk terhadap produk teknologinya, bahkan oleh masyarakatnya sendiri. Sampai pada tahun 2011 saja, pasar ponsel Cina dikuasai oleh Nokia, Samsung dan Apple. Tapi tak perlu waktu lama, hanya dalam lima tahun, ponsel Cina seperti Huawei, OPPO, Vivo dan Xiaomi menjadi ponsel paling laris di Cina, dan bersaing ketat secara global.

Namanya teknologi, tak ada yang langsung sempurna. Semua butuh proses untuk berinovasi dan menjadi lebih baik. Nampaknya hal ini sangat disadari oleh masyarakat Cina dan Jepang. Lewat kesadaran itulah, nasionalisme masyarakat Cina dan Jepang mulai terbangun untuk menggunakan produk buatan sendiri.

Dari fenomena dan fakta ini kita juga bisa belajar jika nasionalisme tak hanya dibangun dari slogan-slogan dan spanduk yang membentang di jalanan. Tapi juga wujud nyata dalam membuktikannya, misalnya saja strategi yang diterapkan oleh Cina dan Jepang dengan memberikan dana lebih dalam penelitian, biaya murah dalam proses manufacturing sehingga bisa fokus dalam berinovasi. Masyarakat manapun mustahil mau membeli produk atas nama nasionalisme jika nyatanya hanyalah barang dengan kualitas buruk.

Tetapi jika barang tersebut dibuat dengan serius, maka sudah pasti masyarakat akan membelinya serta-merta dengan nasionalisme yang mengikutinya. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sepertinya kita masih harus bersabar untuk merasakan hal ini, sobat lanang. Gerakan melek inovasi baru saja dimulai, dan pasar kita masih dikuasai oleh produk Negara lain. Cintai produk Indonesia akan benar-benar terwujud disaat keseriusan kita dalam menciptakan produk teknologi dan kecintaan masyarakat Indonesia menyatu.