Film

Beyond Skyline, Pertempuran Alien Dalam Nuansa Indonesia

Sobat lanang menyukai film-film beraroma makhluk luar angkasa? Jika ya, maka film Beyond Skyline wajib untuk ditonton. Bukan hanya karena alur ceritanya saja, tapi juga karena dua aktor laga Indonesia, Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan terlibat dalam film ini.

Sponsored Links

Film yang disutradarai oleh Liam O’Donnel ini berkisah tentang Mark (Frank Grillo) yang harus bertempur dengan alien yang tiba-tiba menginvasi Los Angeles. Mark memimpin sekelompok survivor berusaha keluar dari Los Angeles hidup-hidup. Pertempuran tersebut hanya menyisakan empat orang; Mark, putranya Trent (Jonny Weston), seorang masinis Audrey (Bojana Novakovic), serta kakek buta bernama Harper (Callan Mulvey); tersedot ke dalam UFO milik alien itu. Sang alien sendiri mengincar otak manusia untuk menghidupkan robot-robot alien.

bs-1

Salah satu adegan Iko Uwais dalam Beyond Skyline | Dok. Hydraulx

Saat Mark sedang berusaha mencari Trent di dalam UFO, ia bertemu dengan seorang ibu yang sedang hamil. Namun ada yang aneh, janin yang baru berusia 3 bulan tersebut membesar dengan cepat sejak perempuan itu melihat sinar dari alien. Setelah melewati pertempuran sengit tersebut, pesawat UFO itu terjatuh di sawah, yang diceritakan berada di sebuah desa di Laos. Mark dan Audrey serta bayi perempuan yang tumbuh sangat cepat itu pun kabur dari UFO.

Mereka pun akhirnya bertemu dengan Sua (Iko Uwais) dan Kanya (Pamelyn Chee), kakak beradik yang merupakan pimpinan kelompok pemberontak Laos. Pertemuan mereka pun menciptakan kelompok baru untuk bertempur melawan alien.

Film yang sudah tayang di Indonesia sejak 31 Oktober 2017 ini, sebenarnya hanya mengambil lokasi syuting di Kanada dan Indonesia. Bukan di Laos seperti yang dikisahkan dalam film. Beberapa lokasi syutingnya di Indonesia adalah Batam dan Yogyakarta, termasuk keindahan Candi Prambanan di dalamnya.

bs-4

Poster Yayan Ruhiyan dalam film Beyond Skyline | Dok. Hydraulx

Sang sutradara mengaku jika hal ini dikarenakan di dalam latar film sudah diceritakan jika dari awal peristiwa ini terjadi di Laos, sehingga ia sangat sulit untuk merubahnya di tengah jalan. Film ini digarap oleh Hydraulx yang pernah menggarap film seperti The Terminator, Jumper, Iron Man 2 dan Fantastic Four.

Nuansa Indonesia sendiri dalam film fiksi ilmiah ini tak hanya tergambar dalam Candi Prambanan, tapi juga dalam gerakan silat para aktor di film ini. Iko Uwais dan Yayan Ruhiyan juga menjadi orang yang membuat koreografi pertempuran. Yayan mengaku jika semua gerakan yang digunakan tidak sepenuhnya menggunakan gerakan silat tapi sedikit dikembangkan karena menyesuaikan kebutuhan film.

Film fiksi ilmiah yang juga mengandung unsur action dan thriller ini dijamin akan sulit membuat wajah kita berpaling. Itu semua karena latar film yang keren serta didukung oleh efek visual serta pengambilan gambar yang matang.