Terkini

Blue Carbon, Harta Indonesia yang Melawan Emisi

Hari ini, Selasa (17/10/2017), Lanang Indonesia berkesempatan untuk menghadiri media briefing tentang blue carbon (karbon biru) bersama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Conservation International (CI) dan Pemerintah Kabupaten Kaimana. Sekilas tak biasa dengan apa yang biasa Lanang Indonesia bahas, tapi ternyata hal ini sangat menyangkut dengan keseharian kita.

Siapa sangka jika Indonesia ternyata memiliki aset blue carbon yang sangat luas. Karbon biru adalah karbon yang diserap ekosistem pantai dan laut serta mencakup lebih dari 55% karbon hijau sedunia. Blue carbon sendiri telah digaungkan sebagai salah satu kontribusi bagi target pengurangan emisi karbon dunia dalam UN Climate Change Conference of the Parties (COP) ke-22 di Maroko, pada tahun 2016. Dari 151 negara yang setidaknya memiliki satu dari ekosistem blue carbon seperti mangrove, padang lamun dan rawa pasang surut. Indonesia menjadi Negara yang memiliki ketiga ekosistem blue carbon tersebut, dengan luas mangrove sekitar 3,1 juta hectare (2015) atau setara dengan 22% ekosistem global.

Di Indonesia, Provinsi Papua Barat merupakan provinsi dengan ekosistem mangrove alami terluas sebesar 482.029,24 hektare. Secara otomatis dengan lahan seluas itu menjadikan Kaimana sebagai tempat dari banyak lembaga, baik itu pendidikan maupun instansi untuk melakukan sebuah studi dan riset secara berkepanjangan. Beberapa wilayah di Kaimana yang dibidik ialah Teluk Arguni, Buruway, Etna dan Kaimana Kota dengan luas lahan mangrove seluas 34.439 hektare.

Marine Program Director CI Indonesia, Victor Nikijuluw, menyatakan jika besarnya stok karbon pada empat kawasan tersebut saja sudah bisa mengimbangi emisi gas karbon yang dihasilkan oleh 19,7 juta unit kendaraan bermotor atau pemakaian 39,3 miliar liter bensin per tahunnya.

“Data ini menegaskan peran penting ekosistem mangrove dalam mendukung komitmen pengurangan emisi. Sayangnya, lebih dari setengah ekosistem mangrove Indonesia mengalami kerusakan dank arena itu kerjasama lintas bidang penting untuk dilakukan,” ucap Victor Nikijuluw.

Jika melihat catatan di atas, bisa kita bayangkan bagaimana pentingnya manfaat dari blue carbon yang dimiliki Indonesia untuk menekan emisi gas karbon yang sangat membahayakan keberlangsungan hidup kita. Lalu apa yang akan kita lakukan jika luas lahan mangrove dan yang lainnya menipis?

Bupati Kaimana Drs. Mathias Mairuma yang juga hadir dalam media briefing ini turut berbicara terkait topik ini. Ia sangat menyambut baik inisiatif ini, bukan hanya sebagai blue carbon field laboratory, tetapi dirinya juga akan memberi masukan soal pelestarian mangrove dan pengembangan alternatif seperti budidaya.

Tapi sayang, progres kita dalam melestarikan itu semua sering kali berjalan di tempat. Di satu sisi, gas emisi yang terus memenuhi langit Indonesia semakin menebal. Sementara luas mangrove yang kita miliki malah berubah wajah menjadi area industri dan komersial lainnya. Tentu ini PR ini kita bersama, setuju? Salam lestari bro.