Seni

Cerita Tafsir Sejarah Lewat Perangko dan Lukisan

Seni dan sejarah adalah dua hal berbeda namun saling berkaitan sejak lama. Keduanya tak bisa dipisahkan meski terkadang sulit juga untuk disatukan. Jika kita menganggap sejarah hanyalah teks berjarak yang kaku untuk diartikan maka hal itu salah besar, seniman kontemporer Triyadi Guntur Wiratmo membuktikannya dengan memberi pandangan segar terhadap sejarah lewat karya seni perangko dan lukisan.

Bertempat di Galeri Nasional, Jakarta, Triyadi Guntur Wiratmo menampilkan 15 karya syarat tafsiran sejarah yang akan membuat penikmatnya berimajinasi dan beranggapan jika sejarah memang bukanlah hal yang tertutup.

pameran-between-the-lines-logo-0613

Lewat pameran bertajuk Between The Lines, Lanang Indonesia pun secara khusus menyaksikan langsung bagaimana keunikan sudut pandang Triyadi Guntur Wiratmo lewat karya-karyanya. Dikuratori oleh Rizki A. Zaelani, karya yang dipamerkan terbagi dalam dua teknik, yaitu teknik perangko dan teknik rajut yang memang keduanya merupakan ciri khas Triyadi dalam berkesenian.

“Dalam karya-karya Triyadi kita bisa melihat bahwa memahami sejarah seringkali tak cukup hanya dengan ilmu pengetahuan, tapi juga diperlukan imajinasi sebagai pendekatan berbeda,” ucap Rizky A. Zealani kepada Lanang Indonesia.

pameran-between-the-lines-logo-0541

Hal tersebut dapat dilihat dalam lukisan bertajuk Lost in Fiction: Getting Pretty, Dear Kamerad. Lukisan yang menggunakan elemen perangko ini menampilkan dua sosok Marxisme yakni Karl Marx dan Mao Zedong. Pendiri dari Republik Rakyat Cina tersebut terlihat seakan siap memangkas rambut Karl Marx yang dikenal sebagai penggagas Marxisme. Menurut Rizky, kita bisa menafsirkan lukisan tersebut sebagai tafsiran sang seniman bahwa Marxisme hadir dengan kemasan lebih baik dan berhasil di tangan Cina, ketimbang di negara induknya, yaitu Rusia.

Atau adapula lukisan yang menampilkan pahlawan emansipasi wanita Kartini, yang berjudul Untitled: Panggil Aku Fashionista Saja, dengan tampilan kontras dimana Kartini digambarkan berada di dekat banyak sepatu. Lukisan ini menampilkan unsur-unsur ironi dengan latar yang kontras yang mungkin sebagai bentuk sindiran sarkastik di era sekarang.

Penasaran? Sobat lanang bisa menyaksikan langsung karya-karya Triyadi Guntur Wiratmo yang telah dibuka sejak 10 April sampai 23 April 2017. Semoga mendapat pencerahan!