Sains

Digital yang Buta dalam Gelimang Informasi

Berapa banyak dari kita yang tahu kepanjangan dari merek BMW? Nama empat wakil presiden Indonesia awal-awal? Atau letak Negara Syria dalam peta? Oke, jangan Googling dulu sekarang karena bukan itu intinya.

Informasi-informasi di atas sudah tersedia di internet sejak puluhan tahun lalu dan dalam cetakan fisik mungkin sejak dahulu sekali, tapi kenapa baru sekarang kita penasaran ingin tahu? Selamat datang di era digital bro.

Hampir 100% pertanyaan yang mendadak terbesit dalam benak kita, bisa kita temukan hanya lewat ponsel pintar. Google beserta situs-situs lainnya mampu memberikan jawaban yang akurat atau jika tidak mendekati akurat. Betapa kita benar-benar bergelimangan jutaan terabit data dan yang kita tahu hanya selfie dan update status di media sosial.

Sebuah riset menarik dilakukan Pew Research Center yang menanyakan 1.000 orang dewasa ragam pertanyaan umum. Hasilnya adalah hanya 15% dari responden yang tahu kalau David Cameron adalah Perdana Menteri Inggris serta 41% yang mengatakan kalau India dan Pakistan memiliki hubungan buruk.

Sponsored Links

Tren ini pun sedang terjadi di Indonesia. Di mana para penyedia informasi membuat font judul besar serta kalimat judul yang provokatif untuk menarik pembaca mengklik sebuah konten.  Akhirnya banyak dari kita yang menjadi pembaca judul.

Intinya bro, ketika membuka internet hari ini kita akan disuguhkan dengan informasi yang berkaitan dengan kesukaan kita karena susunan algoritma. Hal ini membuat lingkar informasi yang kita dapatkan tidak akan pernah berkembang. Selama masih ada yang menjual buku dan koran tak ada salahnya kita tetap beli loh!