Etika

Etika dan Etiket, Serupa Tapi Tak Sama Bro!

Era globasisasi telah membawa dunia menuju perubahan secara drastis, bahkan sampai menyentuh nilai-nilai dan tatanan sosial. Hal ini jelas membuat pola dan perilaku masyarakat ikut berubah, salah satu fenomenanya adalah generasi anak remaja masa kini yang mulai sulit menerapkan etika kepada siapa dan mengapa.

Tapi dalam ulasan kali ini Lanang Indonesia tak ingin menghakimi demoralisasi yang terjadi pada generasi muda. Kita akan membahas hal yang lebih simple lagi. Sobat lanang pasti pernah mendengar kata etika dan etiket. Keduanya memang berbicara soal perilaku dan tata cara dalam kehidupan sehari-hari, tapi sebenarnya etika dan etiket sangatlah berbeda jauh. Apa saja perbedaannya? Check it out bro!

ETIKA

Asal-usul

Kata etika berasal dari bahasa Yunani “ethikos” yang berarti timbul dari kebiasaan. St. John of Damascus pada abad ke-7 Masehi, menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis atau practical philosophy. Bahkan etika sebagai sebuah ilmu sudah perkembang sejak abad ke-4.

Pengertian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etika diartikan sebagai sebuah bidang ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan apa yang buruk, serta hak dan kewajiban moral (akhlak). Etika juga diartikan sebagai suatu sikap yang menunjukkan kesedian atau kesanggupan seseorang untuk mentaati ketentuan serta macam macam norma kehidupan lainnya yang berlaku di dalam suatu masyarakat.

Menurut David Brooks, etika merupakan cabang filsafat yang mengulas tentang penilaian normatif terkait dengan apakah perilaku tersebut benar atau apa yang seharusnya dilakukan. Jadi secara simple etika diartikan sebagai moral.

Sifat

Etika sendiri bersifat absolut, maksudnya adalah etika memiliki prinsip yang tak bisa ditawar-tawar lagi, di mana perbuatan baik akan mendapatkan pujian, sedangkan perbuatan buruk harus mendapatkan sanksi atau hukuman. Etika tetap berlaku baik ada maupun tidak ada saksi atau orang lain.

Ada beberapa jenis etika menurut para pakarnya, yakni Etika filosofis yang berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dikerjakan manusia. Oleh karena itu sebenarnya etika termasuk bagian dari filsafat. Lalu Etika Teologis di mana mengatur tentang tata cara atau adab terhadap para penganut agama, etika teologis bisa berbeda dari tiap agama. Dan yang terakhir adalah Etika Filosofis dan Teologis di mana biasanya teologis bertugas untuk mengoreksi dan memperbaiki etika filosofis.

Aplikasi

Agar semakin mudah memahaminya ada beberapa contoh mengenai etika dalam keseharian, misalnya; seorang remaja dilarang keluar di malam hari. Jika melihat dari sisi etika maka seorang remaja tak akan melakukannya meskipun tak ada yang mengawasi atau pun memiliki kesempatan untuk melakukannya.

Hal tersebut juga berlaku terhadap yang lainnya, misalnya; mengambil barang milik orang lain, atau datang terlambat ke kantor atau yang lainnya.

ETIKET

Asal-usul

Sedangkan untuk etiket sendiri berasal dari bahasa Perancis "etiquette" berarti kartu undangan yang lazim dipakai oleh raja-raja Prancis apabila mengadakan pesta. Banyak yang mengatakan tradisi ini dimulai pada abad ke-9. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah etiket berubah bukan lagi berarti kartu undangan yang dipakai raja-raja dalam mengadakan pesta. Kini istilah etiket lebih menitikberatkan pada cara-cara berbicara yang sopan, cara berpakaian, cara menerima tamu dirumah maupun di kantor dan sopan santun lainnya.

Pengertian

Terdapat beberapa definisi dari kata etiket, seperti Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etiket didefinisikan sebagai tata cara (adat, sopan santun, dan lain sebagainya dalam rangka memelihara hubungan yang baik di antara sesama manusia dalam sebuah lingkungan masyarakat.  Akan tetapi, karena etiket yang dimiliki seseorang menghubungkannya dengan orang lain, maka etiket menjadi peraturan sopan santun dalam pergaulan, serta hidup bermasyarakat. Jadi simpelnya etiket diartikan sebagai sopan santun.

Sifat

Etiket sendiri bersifat relatif, di mana sesuatu yang menurut suatu budaya dianggap sebagai hal yang tidak sopan, akan tetapi belum tentu budaya lain memiliki anggapan yang sama. Bisa saja hal itu dianggap sebagai hal yang wajar atau hal yang sopan. Biasanya etiket hanya menilai seseorang dari luarnya saja.

Aplikasi

Beberapa contoh dalam keseharian yang termasuk ke dalam etiket, seperti makan tanpa sendok di wilayah Eropa atau kalangan borjuis dianggap pelanggaran, sementara sementara di beberapa wilayah Asia ini lumrah. Atau melakukan buang angin, meludah atau membersihkan kotoran hidung tidak boleh dilakukan jika di depan orang lain, namun boleh saja jika tak ada orang lain.

Bagaimana bro, ternyata etika dan etiket tak seperti yang kita kira bukan. Meskipun penggunaan istilah ini sering bersamaan namun sebenarnya punya perbedaan yang cukup banyak. Dan sebagai pria sejati sudah seharusnya kita tahu bagaimana menerapkannya.