Sukses

Generasi Millenial, Lebih Maju atau Mundur?

Generasi yang banyak disebutkan sebagai kelahiran 1990 ke atas ini merupakan generasi yang dianggap memiliki banyak sisi negatif jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Sedangkan mereka selalu dibandingkan dengan generasi sebelumnya yang disebut Generasi Y yang ada di antara 1980 sampai 1989.

Entah ada apa dengan generasi ini tapi bahkan majalah dunia sekelas TIME pun menilai generasi millenial ini sebagai generasi yang narsis, gila gadget dan manja (edisi 20 Mei, 2013).  Mungkin majalah TIME boleh sebrutal itu dengan riset apa pun yang telah mereka lakukan. Tapi Lanang Indonesia akan mencoba mengupasnya dengan lebih manusiawi dan tidak terlalu memojokkan.

Kita ambil yang paling awal, narsis. Pada era serba sulit dan persaingan kerja yang ketat seperti saat ini, tren mereka untuk membuat lamaran kerja cenderung lebih mengiklankan diri dan hal ini bisa dikategorikan sebagai bagian dari narsis. Hal yang sedikit mengganggu ketika narsis yang berlebihan mereka pakai saat negosiasi gaji dengan perusahaan. Seorang fresh graduate tanpa pengalaman kerja hari ini berani meminta gaji sekelas supervisor.

Gila gadget mungkin saja terjadi karena mereka lahir di masa ketika semua ponsel sudah terlalu pintar, saat sekumpulan orang dari berbagai belahan dunia bisa ngobrol bareng dalam satu grup chat. Semua ini bagus sampai saat mereka menghadapi dunia nyata dan tidak terbiasa bersosialisasi. Akrab dengan keyboard membuat mereka lupa jika dalam berbicara ada yang namanya intonasi.

Manja, tinggal bersama orang tua mereka jadikan pilihan karena biaya kehidupan meningkat sedangkan gaji seorang karyawan yang cenderung stagnan. Hal ini membuat mereka kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari sendirian. Bagi Anda yang masih tinggal bersama orang tua tidak masalah, tapi jangan sampai membuat Anda telat mandiri.

Resistansi mereka terhadap tekanan kerja juga cukup rendah karena selama masih tinggal bersama orang tua, mereka masih punya tempat mengadu dan sedikit banyak orang tua pasti membela.

Menurut Septiani Teberlina, Senior Writer di Concord Consulting Indonesia, generasi millenial terlalu terbiasa dengan teknologi dan memiliki etos kerja yang agak di bawah rata-rata.

“Mereka lebih berorientasi ke hasil daripada proses, maunya yang instan dan asal jadi. Mereka juga lebih melek teknologi tapi terlalu abusive dengan penggunaan teknologi itu sendiri selain itu mereka juga terlalu aktif dengan sosial media sehingga sedikit-sedikit share,” katanya.

Septiani juga mengakui jika rasa percaya diri mereka yang berlebihan sering kali membuat mereka berani untuk meminta gaji tinggi dengan hanya dengan modal minim pengalaman.

“Soal etika entah kenapa generasi sekarang ini kelihatan kurang santun, misalkan pada saat ngobrol dengan orang yang lebih tua melalui sms. Mungkin gue bisa bilang begini karena gue sendiri dari kecil sudah diajarkan cara bersopan santun kepada orang yang lebih tua,” pungkasnya.

Terlepas dari semua sisi negatif yang banyak dibahas tentang generasi millenial, semuanya selalu kembali kepada pribadi masing-masing. Tidak mungkin ratusan juta bayi yang lahir sejak 1990 tersebut semuanya negatif, selalu ada cahaya di balik gulita.