Sains

Indonesia Bangun Observatorium Terbesar Di Asia Tenggara

Sebagai Negara dengan wilayah yang luas dan berada di garis khatulistiwa tentunya membuat Indonesia sering mengalami peristiwa atau fenomena astronomi yang unik dan mengagumkan. Agar bisa menangkap semua fenomena langit tersebut, Indonesia membangun observatorium baru menggantikan Observatorium Bosccha, Lembang, Bandung.

Observatorium baru ini sedang dalam proses pembangunan di pegunungan Timau, Kecamatan Amfoang Tengah, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Observatorium ini akan menjadi observatorium terbesar di Asia Tenggara.

Pihak LAPAN, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, selaku lembaga yang menaungi observatorium mengklaim observatorium Timau memiliki banyak keunggulan, salah satunya dari segi posisi. Menurut LAPAN, tak banyak observatorium mengamati langit bagian selatan.

Tak hanya itu, Timau juga memiliki kecerahan langit yang baik dibandingkan daerah lain di Indonesia. Hal ini yang sulit lagi dipenuhi oleh Observatorium Bosccha, karena terpengaruh oleh polusi cahaya kota Bandung.

Sebelumnya, observatorium terbesar di Asia Tenggara ada di Taman Nasional Doi Inthanon, Thailand. Fasilitas observatorium di Thailand, dilengkapi dengan teleskop berukuran 2.4 meter yang menjadikannya observatorium terbesar saat itu. Lalu bagaimana dengan observatorium Timau? Observatorium ini akan memiliki teleskop berdiameter 3,8 meter. Dengan diameter yang lebih besar, observatorium ini akan mampu meneropong objek angkasa yang lebih redup dan jauh.

Objek angkasa seperti nebula, bintang serta galaksi kini akan dengan mudah dinikmati dari observatorium di Indonesia. Observatorium sendiri merupakan lokasi dengan perlengkapan untuk dapat melihat langit dan peristiwa yang berhubungan dengan angkasa.

Menurut sejarah, observatorium bisa sesederhana sextant (untuk mengukur jarak di antara bintang) sampai sekompleks Stonehenge (untuk mengukur musim lewat posisi matahari terbit dan terbenam). Observatorium modern biasanya berisi satu atau lebih teleskop yang terpasang secara permanen yang berada dalam gedung dengan kubah yang berputar atau yang dapat dilepaskan.

Dalam dua dasawarsa terakhir, banyak observatorium luar angkasa sudah diluncurkan, memperkenalkan penggunaan baru istilah ini. Observatorium harus dibangun di tempat yang tepat, dengan cuaca yang baik, suhu yang sedang, banyak hari cerah dan malam – malam tanpa awan, dan sesedikit mungkin kabut, hujan, dan salju. Juga harus jauh dari lampu – lampu kota dan tanda – tanda dari lampu neon, yang membuat langit terlalu terang agar hasil pengamatan yang baik.

Secara umum observatorium terbagi menjadi 3, yakni observatorium darat, udara dan luar angkasa. Jauh sebelum Observatorium Bosscha berdiri, di Indonesia (Hindia Belanda kala itu) pernah ada observatorium yang didirikan di Batavia. Ialah yang sebenarnya menjadi observatorium tertua di Nusantara. Namun ia hanya bertahan selama satu dekade, setelah itu hilang dan hampir tanpa sisa akibat gempa yang melanda.

Sponsored Links

Di observatorium yang modern, para astronom hanya perlu menekan tombol untuk menggerakkan peralatan. Tentu saja, untuk dapat melihat, para astronom harus selalu berada dekat lubang pengintai pada teleskop atau kamera yang dipasang ke teleskop. Maka, dibeberapa observatorium, lantainya dapat ditinggikan atau direndahkan, atau ada podium yang dapat disesuaikan.

Astronom tidak hanya mengandalkan mata mereka untuk mengamati langit. Mereka memiliki berbagai peralatan yang rumit dan peralatan tambahan yang dipasang pada teleskop, seperti kamera, spektroskop, spektograf, dan spektroheliograf, semuanya membantu mereka mendapatkan informasi penting.