Sosok

Ismail Marzuki, Legenda Bandung Sampai Banda Neira

Namanya begitu akrab di telinga kita, komposer Betawi yang unik dan humoris ini menciptakan lebih dari 200 lagu-lagu terbaik sejak tahun 1934. Lagu-lagunya seperti Rayuan Pulau Kelapa, Juwita Malam dan Gugur Bunga pun hingga kini masih banyak dikagumi bahkan di-remake oleh banyak musisi.

Sosok komposer tersebut adalah Ismail Marzuki, musisi berbakat dari Kwitang yang malang melintang ketika zaman perjuangan. Pria yang namanya menjadi salah satu pusat pembelajaran kesenian di Jakarta ini menciptakan lagu-lagu populer kala itu sembari terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ia menuliskan kisah-kisah perjuang tersebut dalam beberapa lagunya yang membangkitkan semangat heroik, seperti Halo-halo Bandung dan Selamat Datang Pahlawan Muda.

Dalam hidupnya, Ismail dikenal sangat mencintai Indonesia. Ini terbukti dari beberapa lagunya seperti Indonesia Pusaka dan Rayuan Pulau Kelapa. Pada saat RRI direbut penjajah pun, dia memilih mogok kerja dan rela hidup susah bersama istrinya.

Pria yang akrab disapa Maing ini ternyata juga mengalami jatuh bangun dalam hidupnya. Pada usia tiga bulan ia telah menjadi piatu dan akhirnya ia dirawat oleh kakaknya. Ayahnya yang bekerja sebagai pegawai di perusahaan otomotif membuat dirinya mampu membeli gramofon dan beberapa piringan hitam seperti keroncong, pop, gambus, dan lainnya.

Saat kenaikan kelas, Ismail sering meminta alat musik kepada ayahnya seperti harmonika, mandolin, dan lainnya. Dia betul-betul memanfaatkan alat musik itu untuk bermusik dan menciptakan lagu. Di usia 17 tahun, dia telah berhasil menciptakan lagu pertamanya yang berjudul O…Sarinah.

Setelah lulus sekolah, Ismail Marzuki sempat bekerja sebagai kasir di Socony Servie Station, sebuah perusahaan produk perawatan mobil. Merasa tak sesuai dengan minatnya, Ismail berhenti bekerja hingga kemudian kembali bekerja di KK Nies yang menjual alat-alat musik dan piringan hitam. Di sini ia merasa sesuai dan betah bekerja, ia pun semakin banyak menambah koleksi musiknya.

Lagu demi lagu ia ciptakan, kesuksesannya pun semakin baik hingga dirinya pernah diundang ke Singapura dan Malaysia untuk tampil.

Namun sayang, Ismail Marzuki harus wafat di puncak kariernya, ia jatuh sakit pada tahun 1956, dan menciptakan lagu terakhirnya pada masa-masa sakit yang berjudul “Inikah Bahagia?.” Lalu tepat pada 25 Mei 1958, Ismail Marzuki meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang. Ia meninggal di usia 44 tahun dan dianugerahi gelar pahlawan nasional pada tahun 2004.