News

Kartini, Sosok dan Surat yang Kembali Terbesit

Esok, Jumat 21 April 2018 adalah Hari Kartini, sebuah hari di mana kita akan selalu memperingati jasa Raden Ajeng Kartini dalam perjuangan emansipasi wanita yang dirasakan sampai saat ini. Esok kita tentu akan disibukkan dengan berbagai kutipan, literatur dan berbagai hal yang berbau dengan Kartini dan wanita yang diasosiasikan tangguh.

Kartini bukanlah wanita pertama yang menyuarakan perjuangan terutama soal emansipasi. Namun ia adalah wanita pertama yang melahirkan kitab bagaimana melakukan itu semua, diterbitkannya surat-menyurat pribadi Kartini dengan sahabat penanya, yang berjudul Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang, pada 1911 menjadi bacaan yang beredar luas di kalangan terpelajar. Buku ini menuntun bagaimana melihat arah kemajuan masa depan sesungguhnya.

Pandangan yang terkandung dalam Habis Gelap Terbitlah Terang menunjukkan sisi kritis Kartini atas tradisi feodalisme yang tumbuh subur kala itu di tanah Jawa dan daerah jajahan lainnya. Dalam buku kenang-kenangan Budi Utomo (1918), adik kandung dr. Sutomo Raden Ayu Sriati Mangunkusumo, menulis “Kita perempuan, seringkali dianggap lemah dan perlu dilindungi. Suara kita tidak pernah didengar,”

“Namun akhirnya ada sebuah awal, yang kita tahu semua, sejak pemikiran pendahulu kita yang mulia, Kartini, yang memengaruhi pemikiran banyak orang.” (Gedenkboek Boedi Oetomo, 1908-1918). Dari situ bisa kita lihat jika Kartini membawa pengaruh luar biasa terhadap gerakan emansipasi perempuan Indonesia. Ia menjadi orang yang membuka pintu yang sebelumnya tertutup rapat.

Kartini yang merupakan anak seorang ningrat lahir pada 21 April 1879, ia sangat disayangkan banyak orang karena memiliki umur yang pendek. Ia meninggal di Rembang, pada 17 September 1904 ketika berusia 25 tahun, genap ketika usianya baru memasuki seperempat abad. Ia meninggal tak lama setelah melahirkan Soesalit Djojoadhiningrat, pada 13 September 1904, anak dari pernikahannya dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. RA Kartini lahir dari seorang Bupati Jepara, RM Adipati Ario Sosroningrat dan seorang selir bernama Ngasirah.  

Ia mungkin keras kepala untuk memperjuangkan apa yang diyakininya. Tapi ia juga realistis dan baik hati dari apa yang dimilikinya, Kartini pernah mengajukan surat untuk mendapatkan beasiswa di Batavia, tetapi karena dia telah menikah, beasiswa tersebut diberikannya kepada pemuda bernama Salim dari Riau.

Kartini jugalah yang mengenalkan ukiran Jepara ke Eropa, hingga akhirnya Jepara menjadi kota yang terkenal akan ukirannya sampai kini. Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Kepres RI No. 198 Tahun 1964 yang menetapkan bahwa Raden Ajeng Kartini adalah Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Namanya juga diabadikan menjadi empat nama jalan raya di Belanda, yakni Amsterdam, Utretch, Veerlo dan Harleem.