News

Kenapa Tumblr Diblokir Di Indonesia?

Platform mikroblog dan situs jejaring sosial Tumblr yang memiliki hampir 200 juta pengguna baru saja diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi atau Kemenkominfo, pada Senin (5/3/2018). Netizen pun ramai-ramai mengkritik Kemenkominfo atas keputusannya ini. Lalu apa alasan Kemenkominfo memblokirnya?

 

Platform yang didirikan oleh David Karp pada 2007 ini, diblokir karena banyaknya temuan akun yang menyebar konten berbau pornografi. Lewat akun twitternya, Kemenkominfo mengatakan jika ditemukan sebanyak 360 akun dengan konten pornografi di dalam Tumblr. Selain itu yang membuat Kemenkominfo semakin keberatan adalah karena Tumblr tak memiliki mekanisme dan report tools untuk melaporkan konten asusila.

Kemenkominfo pun berdalih jika pihaknya sudah lebih dulu mengirimkan pemberitahuan kepada pihak Tumblr melalui email untuk melakukan pembersihan dari konten pornografi. Kemenkominfo memberi waktu selama 2 hari atau 2 x 24 jam, namun selama waktu tersebut pihak Tumblr dianggap tak merespon dengan baik sehingga terjadilah pemblokiran oleh Kemenkominfo.

Keputusan ini menuai kontroversi, ada yang pro, banyak juga yang kontra. Pihak Kemenkominfo pun belum memberi tahu pasti kapan blokir Tumblr akan dibuka kembali. Menurut pihak Kemenkominfo, kemungkinan Tumblr akan dibuka blokirnya jika akun dengan konten pornografi sudah dibersihkan.

Bukan kali ini saja Tumblr diblokir oleh Kemenkominfo, pada tahun 2016 lalu, Kemenkominfo juga sempat memblokir Tumblr karena dianggap menyebarkan pornografi dan LGBT. Lalu efektifkah langkah ini? Apakah akan menjamin mampu menghapus konten negatif secara permanen? Banyak yang menganggap jika keputusan Kemenkominfo ini dilandasi dari niat baik yang dikuatkan oleh peraturan yang ada pula. Namun jika melihat dari jumlah pengguna Tumblr yang hampir mencapai 200 juta orang, maka angka 360 sangat sedikit persentasenya. Nyatanya media populer lainnya seperti Youtube dan yang lainnya juga banyak mengandung konten negatif.

Jika berkaca dari hal tersebut maka sebaiknya pemerintah lewat Kemenkominfo harus berpikir ulang untuk mengatasi hal ini. Jangan sampai karena ketidakdewasaan beberapa pengguna lantas membuat pengguna yang lainnya sampai dirugikan. Mengedukasi para pengguna jejaring sosial atau internet  rasanya lebih penting, karena akan berpengaruh dalam jangka panjang. Bagaimana kalau menurut lo bro?