News

Majalah NME Berhenti Menemani Pencinta Musik Setelah 66 Tahun

Semua sobat lanang pasti suka musik, apapun itu jenisnya, mau rock, pop, metal, rock n roll, sampai keroncong tentu punya selera masing-masing dalam menggemarinya. Musik tak hanya sekedar suara pengiring, tapi juga menjadi hal yang menemani kita dalam menumbuhkan karakter diri. Namun baru-baru ini salah satu majalah musik terpopuler di dunia NME, harus berhenti menemani kita secara fisik.

New Musical Express atau yang lebih dikenal sebagai NME adalah majalah musik populer di Inggris, diterbitkan mingguan sejak Maret 1952. Kabar mengejutkan datang ketika NME mengumumkan akan berhenti cetak. Edisi terakhir mereka dirilis pada Jumat (9/3/2018). Keputusan itu diambil karena majalah yang pertama kali dirilis pada 66 tahun lalu ini tak lagi sanggup memenuhi biaya produksi.

Sangat disayangkan majalah yang menjadi acuan informasi para penggemar musik dunia harus terbenam. Jasa-jasanya membesarkan banyak band dan aliran musik baru sungguh tak bisa tergantikan. NME sendiri sebenarnya sudah ada sejak tahun 1936, dengan nama Accordion Times, kala itu alat musik akordion jauh lebih populer ketimbang gitar Spanyol. Seiring waktu kepopuleran akordion meredup dan puncaknya Accordion Times berganti nama menjadi Musical Express, pada 1946, lalu kembali berganti nama menjadi New Musical Express pada tahun 1952.

Majalah NME membawa kejayaan terhadap jurnalisme musik dan para pengikutnya, yang tak lain adalah penggemar musik. Pada era 1960-an, oplahnya mencapai lebih dari 300 ribu eksemplar per minggu. Media ternama The Economist pernah menjulukinya sebagai majalah musik terpenting di era 1980-an. Bagaimana tidak, aliran musik seperti punk dan new wave sukses terangkat berkat ulasannya. Nama-nama jurnalis musik seperti Nick Logan, Charles Shaar Murray dan Nick Kent juga lahir dari halaman dingin majalah NME.

Sponsored Links

Grup band seperti Sex Pistols, X-Ray Spex, Generation X, The Ramones, dan The Clash rutin eksis di sampul depan majalah NME. Kesuksesan ini pun mengantarkan NME membuat NME Awards. Berbeda dengan Grammy Award atau yang lainnya, NME Awards disajikan dengan lebih santai dan menghibur. Contohnya adalah pemberian nama pada nominasi, seperti “Penjahat Tahun Ini” dan “Rekaman Terburuk”. Elvis Presley dan John Peel adalah musisi yang paling banyak mendapatkan penghargaan NME Awards, yakni sebanyak 26 penghargaan.

Tapi apa mau dikata, sejarah manis ini tetap tak membuat NME mencetak karya-karya jurnalisme musik terbaiknya. Tren digital memaksa mereka untuk memperluas pembaca digitalnya ketimbang mengurusi jumlah oplah yang terus merosot. Selain itu, pembagian secara gratis kepada penumpang kereta dan mahasiswa di Inggris membuat beban biaya produksi tersendiri. Karena inilah akhirnya NME memutuskan untuk fokus kepada situs webnya daripada bentuk majalah.

Sangat disayangkan memang, NME harus tumbang mengikuti majalah musik lainnya, seperti Metal Hammer hingga Classic Rock yang mengakui ketangguhan digital. Bagaimana kalau menurut sobat lanang?