Gaya Hidup

Masyarakat Non Tunai, Gaya dan Pola Pikir Baru

Ada yang sudah tahu GNNT? Jika belum, kita akan bahas bersama dalam ulasan ini beserta fenomenanya yang sedang hits. GNNT atau Gerakan Nasional Non Tunai sendiri telah berdiri pada tahun 2014 yang diinisiasi oleh Bank Indonesia.

GNNT bisa dibilang sebagai bentuk akumulasi terhadap perubahan gaya dan pola pikir masyarakat modern yang rutin melakukan transaksi tanpa uang fisik. Mereka biasa menyebut dirinya cashless society atau masyarakat non tunai. Sungguh menarik membahas fenomena ini, kenapa, karena jika diamati secara mendalam ternyata cashless society adalah sebuah gerakan yang dilakukan dengan sukarela untuk mengurangi peredaran uang fisik.

Dalam beberapa waktu terakhir, entah sedang nongkrong di kafe, atau belanja di pusat perbelanjaan seringkali terdengar istilah cashless society. Jika dulu tak memegang uang karena malas ke ATM sehingga punya alasan pinjam ke teman, namun sekarang memang sengaja. Oke, sekarang kita bahas apa kelebihan dan kekurangannya guys!

Kelebihan

Manfaat menjadi masyarakat non tunai memang sangat positif. Memberikan kemudahan saat transaksi, tak perlu lagi dompet tebal, hanya butuh ponsel pintar dan kartu e-money. Tingkat risiko pencurian yang rendah dan efisiensi waktu.   Dengan transaksi non tunai kita akan dengan mudah melacak setiap tranksaksi yang kita lakukan tanpa harus repot mengingat apa saja yang sudah kita belanjakan.

Di sisi lain, para aktivis lingkungan mungkin akan tersenyum lebar dengan keberhasilan gerakan ini. Kenapa? Karena secara otomatis penggunaan kertas untuk mencetak uang baru akan berkurang. Secara orang Indonesia belum bijak menyimpan uang, kantong sempit juga akan tetap digunakan asal muat, tak peduli kondisi uang akan lecek bahkan rusak.

cashless2

Tingkat transaksi tunai dan non tunai di dunia | Dok. Visual Capitalist

Menurut data badan riset Statista, pada 2017 saja, total nilai transaksi pembayaran digital di Indonesia mencapai US$ 18,6 miliar. Meskipun terlihat besar namun nyatanya, Indonesia baru menyumbang 2 persen dari nilai transaksi pembayaran digital secara global.

Tetapi jika dilihat dari data Bank Indonesia tren transaksi non tunai di Indonesia terus mengalami kenaikan. Misalnya pada 2011, nilai transaksi non tunai lebih dari Rp 981 triliun. Dan melesat tajam pada tahun 2016 menjadi Rp 7.063 triliun.

Jadi jika melihat ke depannya, masyarakat non tunai akan mengalami penambahan populasi. Secara hal ini menyangkut teknologi dan cocok untuk tradisi kemajuan. Lalu apakah ini akan membuat transaksi non tunai terlihat sempurna? Coba kita periksa kekurangannya.

Kekurangan

Hal yang paling pertama soal kekurangan transaksi non tunai adalah teknologi dan infrastruktur penunjangnya. Pastikan sistem keamanan dalam teknologi non tunai sangatlah baik, jika tidak, ini hanya akan membuat kita menjadi sasaran para hacker dan semakin membuat mereka malas mencari uang dengan halal.

Lalu pastikan sinyal ponsel pintar kita terus berdiri tanpa loyo. Masalahnya, sinyal 4G di Indonesia saja hanya kuat di kota-kota besar tapi lemah di pedesaan. Jika kita melihat lebih dalam lagi adalah persoalan yang lebih personal sifatnya terkait non tunai. Misalnya, privasi kita dalam jejak transaksi digital selalu terekam setiap saat. Bukan tidak mungkin ruang privasi kita akan semakin terbuka lebar. Sekarang saja, kita sudah sering dihubungi marketing kartu kredit atau lainnya yang entah dari mana mereka dapat nomor ponsel kita.

Dan yang lebih personal lagi adalah strategi “modus” kita yang mudah terlacak pacar atau pasangan. Contohnya saat kita membelikan sesuatu terhadap gebetan atau selingkuhan. Kita pasti tak akan bisa mengelak kenapa membeli sepatu heels atau gaun hitam berbahan tipis. Tapi jangan dibawa perasaan, yang barusan hanya sekedar humor.

cashless3

Ilustrasi transaksi non tunai | Dok. Lanang Indonesia

Belum lagi persoalan teknis yang membayangi masyarakat non tunai, seperti masalah baterai ponsel yang tak boleh habis atau gangguan jaringan yang sering terjadi. Selain itu, ada bahaya laten yang dikenal dengan istilah latte factors di mana kita akan sering mengeluarkan uang untuk hal yang sebenarnya tidak perlu, seperti membeli saldo transportasi online dan deposit uang elektronik dari e-commerce.

Ya begitulah kiranya bahasan kita kali ini, selebihnya tergantung sobat lanang semua dalam memilih. Di Indonesia sendiri masih ada beberapa kontroversi, seperti regulasi Bank Indonesia yang dianggap membebani masyarakat, kebijakan saldo mengendap dan biaya kartu yang dirasa tak wajar.

Masyarakat non tunai lambat laun pasti menjadi dominan karena teknologi, tetapi jangan sampai tak kritis dalam setiap transaksi non tunai karena menyangkut nominal pengeluaran kita.