Gaya Hidup

Meneropong Stadion GBK Dari Masa Ke Masa

Suara gemuruh tak henti menyemangati 11 orang di lapangan yang mewakili Indonesia dalam melawan Islandia, semalam, 14/1/2017. Memang kita kalah 4-1 dari Islandia saat laga uji coba, namun rasa bangga para supporter Indonesia terlihat begitu kuat saat meneriakkan semangatnya di Stadion Gelora Bung Karno yang baru saja direnovasi. Ketika didirikan, Sukarno memang menginginkan kebanggaan atas GBK bukan hanya untuk olahraga tapi juga dapat memperkuat rasa kebangsaan.

Stadion GBK yang tampil dengan wajah baru memberi sebuah semangat baru dalam menatap prestasi sepak bola Indonesia. Stadion ini bersolek demi menjadi saksi tuan rumah Asian Games 2018. Stadion GBK memang bukan sembarang stadion, GBK memiliki sejarah panjang dalam perjalanan olahraga dan politik Indonesia.

Asal-usul

Stadion utama Gelora Bung Karno lahir pada 8 Februari 1960 dan mulai resmi dipergunakan pada 24 Agustus 1962. Stadion Utama Gelora Bung Karno adalah sebuah stadion serbaguna yang merupakan bagian dari kompleks olahraga Gelanggang Olahraga Bung Karno. Stadion ini umumnya digunakan sebagai arena pertandingan sepak bola tingkat internasional.

gbk1-1

Presiden Soekarno bersama PM Uni Soviet Nikita Kruschev memantau maket pembangunan GBK | Dok. Arsip RI

Stadion ini dinamai Gelora Bung Karno untuk menghormati Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama, yang juga mencetuskan gagasan pembangunan kompleks olahraga ini. Hingga saat ini, Gelora Bung Karno merupakan satu-satunya stadion yang benar-benar berstandar internasional di Indonesia.

Saksi Sejarah

Dengan kapasitas awal sekitar 120.000 orang, stadion yang mulai dibangun pada pertengahan tahun 1958 dan penyelesaian fase pertamanya pada kuartal ketiga 1962 ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Berbagai perhelatan olahraga kelas dunia dan acara politik besar pernah digelar di stadion ini.

Upacara pembukaan Asian Games ke IV tahun 1962 dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang dihadiri oleh lebih dari 110.000 orang. Pada Pidatonya Presiden R.I. Pertama Ir. Soekarno (Bung Karno) mengatakan bahwa peristiwa ini merupakan tonggak sejarah bagi Bangsa Indonesia khususnya dibidang olahraga yang merupakan bagian dari Nation and Character Building, maupun dalam rangka pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Setahun kemudian dilaksanakan GANEFO (Games of The New Emergencing Forces) ke 1 tahun 1963. Dengan selesainya pembangunan Gelanggang Olahraga Bung Karno pada saat itu membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu melaksanakan pembangunan sebuah komplek olahraga bertaraf international yang pada masa itu belum banyak dimiliki oleh Negara maju sekalipun.

Ada Karena Pertemanan

Sponsored Links

Indonesia sebagai Negara yang belum lama merdeka tentunya agak sulit mengumpulkan dana banyak untuk membangun sebuah fasilitas olahraga bertaraf internasional. Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958. Dan tentunya dengan dana yang cukup besar tersebut itu menjadikan gelanggang olahraga ini sebagai stadion sepak bola terbesar di Indonesia Indonesia.

Dana tersebut berhasil cair karena dekatnya hubungan Ir. Soekarno dengan Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev. Jika dilihat dari segi ekonomi, sangat sulit memberikan Indonesia dana besar pada saat itu. Saat pemancangan tiang keseratus pun Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev melakukannya secara simbolis.

Berubah Nama

Ketatnya tensi politik Indonesia setelah masa peralihan dari Soekarno ke Soeharto menjadikan stadion ini berubah nama. Dalam rangka de-Soekarnoisasi, pada masa Orde Baru, nama stadion ini diubah menjadi Stadion Utama Senayan melalui Keppres No. 4/1984. Setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998, nama Stadion ini dikembalikan kepada namanya semula melalui Surat Keputusan Presiden No. 7/2001, oleh Abdurrahman Wahid.

Wajah Baru

Menyambut kembali Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, membuat GBK berbenah. Stadion ini juga berhasil dibangun berkat kesempatan menjadi tuan rumah Asian Games tahun 1962. Kini stadion GBK baru saja selesai direnovasi, banyak sekali keunggulan yang dimiliki oleh Stadion GBK.

gbk2

Tampilan Stadion GBK setelah direnovasi | Dok. GBK

Renovasi yang menelan biaya Rp760 miliar ini membuat GBK tampil dengan rumput standar FIFA terbaik jenis Zoysia matrella dilengkapi alat penyiram rumput otomatis hingga sistem drainase antibanjir. Pencahayaan yang digunakan berkekuatan 3.500 lux yang merupakan salah satu terbaik di dunia. Sistem pencahayaannya telah LED, sehingga konsumsi listrik lebih hemat hingga 50 persen dari lampu konvensional dan memiliki kualitas pencahayaan tiga kali lebih baik.

Sistem pencahayaan tersebut telah terintegrasi dengan sistem tata suara yang berkekuatan hingga 80 ribu watt PMPO. Sehingga aman saat menjadi upacara pembukaan Asian Games. Kualitas kursi dengan jenis single seat dan flip up telah memenuhi standar aksesibilitas evakuasi. Setiap kursi mampu menahan beban hingga 250 kg dan tidak mudah ditarik, sehingga menahan aksi vandalisme.

Sekarang kita boleh berbangga dengan apa yang dimiliki, tapi jangan sampai kita lupa jika kebanggaan ini tak akan bertahan lama jika tak ada rasa memiliki untuk merawat dan menjaganya.