News

Mengenal Gurkha, Pasukan Penjaga Donald Trump dan Kim Jong Un

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un akan melakukan pertemuan bersejarah pada 12 Juni 2018 mendatang. Singapura dipercaya untuk menjadi tuan rumah pertemuan dua kepala Negara yang sering kali mengundang kontroversi tersebut. Pertemuan ini akan meredakan tensi politik global yang terpecah karena blok ideologi yang berbeda.

Setelah melakukan pembicaraan luar biasa dengan pejabat tinggi Pyongyang di Gedung Putih pada Jumat (1/6/2018) waktu setempat, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya mengkonfirmasi pertemuan tingkat tingginya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Trump akan membahas soal denuklirisasi Korea Utara dan pembangunan ekonomi. Selain itu, Trump berjanji akan mengajak Kim Jong Un mengunjungi Amerika Serikat jika pertemuan di Singapura berjalan lancar.

Pemerintah Singapura pun bersolek, ia menyiapkan segala sesuatunya untuk memastikan Singapura dalam kondisi terbaik ketika pertemuan digelar, baik dari segi kenyamanan dan keamanan. Demi menjamin segi keamanan, salah satu hal yang dilakukan oleh Singapura adalah dengan menurunkan Pasukan Gurkha untuk menjaga Pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump.

Nama Pasukan Gurkha bukanlah hal asing, nama pasukan tersebut sering menghiasi buku-buku sejarah terkait peperangan. Meskipun begitu masih banyak orang yang sayup-sayup terkait informasi Pasukan Gurkha. Siapakah Gurkha? Dari mana dan kenapa ia dipilih? Lanang Indonesia akan mengajak kalian untuk mengenal lebih jauh Pasukan Gurkha yang ternyata juga pernah berperang melawan Tentara Indonesia. Mari disimak!

gurkha2

Pasukan Gurkha dalam Ekspedisi Gunung Everest, Himalaya, tahun 2017 | Dok. Istimewa

Gurkha, juga disebut gorkha, adalah orang-orang dari Nepal yang mengambil namanya dari orang suci Hindu abad ke-18, Guru Gorakhnath. Gurkha mulai dikenal karena keberanian dan kekuatannya dalam Brigade Gurkha yang direkrut Angkatan Darat Britania Raya serta Angkatan Darat India. Mereka juga terkenal karena pisau khas mereka yang disebut kukri.

Orang Gurkha secara tradisional direkrut dari berbagai etnis di bukit Nepal seperti, Magar, Chhetri, Gurung, dan Thakuri. Ketiga kasta tersebut adalah Gurkha asli yang berperang melawan Britania Raya. Sekarang, Gurkha berasal dari semua suku Nepal termasuk Gurung, Magar, Chhetri, Thakuri, Rai, limbu, Sherpa, Tamang, Newars, dan sebagainya.

Para pejabat Inggris pada abad ke-19 menyatakan Gurkha sebagai 'Ras Martial', istilah yang menggambarkan sifat mereka yaitu "suka berperang dan agresif dalam pertempuran", memiliki kualitas keberanian, kesetiaan, kemandirian, kekuatan fisik, ketahanan, kedisiplinan, keuletan dan kekuatan militer.

Britania Raya yang pernah berperang dengan Nepal pada tahun 1814, harus mengakui ketangguhan orang-orang Gurkha. Perjanjian Perdamaian antara Britania Raya dan Nepal pun dibuat pada tahun 1816, dan sejak saat itu Britania Raya merekrut orang-orang Gurkha menjadi pasukan dalam resimen khusus yang juga diberi nama Resimen Gurkha dalam satuan pasukan tentara Inggris.

Setelah menandatangani Perjanjian tersebut, Gurkha melayani Perusahaan Hindia Timur Britania sebagai prajurit kontrak pada Perang Pindaree atau lebih dikenal sebagai Perang Anglo-Maratha Ketiga pada tahun 1817, Perang Burma-Inggeris Pertama pada 1826, Perang Anglo-Burma Pertama dan Kedua pada 1846 dan 1848.

Gurkha juga pernah terlibat konfrontasi dengan Tentara Nasional Indonesia pada medio 1963, dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia. Pertempuran tersebut terjadi karena Federasi Malaysia ingin menggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak, rencana ini pun ditentang oleh Presiden Sukarno. Namun karena Malaysia merupakan salah satu Negara persemakmuran Kerajaan Britania Raya, maka mereka dibantu oleh pasukan Inggris dan tentu saja juga Pasukan Gurkha.

Belakangan, tak hanya Inggris yang menggunakan orang-orang Gurkha, melainkan India dan Singapura. Hanya karena jadi serdadu dan dapat gaji alias uang dari pemerintah Inggris, India dan Singapura, Gurkha dianggap sebagai serdadu bayaran atau marcenary. Meskipun mereka tidak berstatus sebagai kontraktor dalam Private Military Company (PMC) alias perusahaan tentara bayaran yang hanya dikontrak jika ada perang. Meskipun begitu, mereka bukanlah salah satu resimen dalam kemiliteran Inggris, India dan Singapura. Gurkha punya jenjang karir yang jelas, meski tak ada satupun dari orang-orang Gurkha itu yang jadi jenderal.

gurkha1

Pasukan Gurkha berbaris | Dok. Istimewa

Salah satu peristiwa yang menggambarkan betapa Gurkha tak kenal takut terjadi pada 1945. Ketika itu seorang Gurkha Lachhiman Gurung, terjebak dalam parit bersama dua tentara yang terluka ketika mereka ditembaki oleh sekitar 200 orang tentara Jepang. Tentara Jepang melempari parit itu dengan tiga granat. Dengan cepat Gurung melempar kembali granat-granat tersebut. Namun granat terakhir meledak di tangannya, hancur. Tidak ciut nyali, Gurung masih menyerang, menembak dengan satu tangan, menewaskan 31 tentara Jepang.

Sampai sekarang banyak pemuda di sekitar Nepal yang masih sangat ingin menjadi anggota Gurkha. Sebuah kamp khusus seleksi Gurkha bahkan masih didirikan di Pokhara, Nepal. Usia para pemuda Gurkha yang melamar rata-rata antara 17 sampai 21 tahun. Motivasi mereka bergabung hanya karena untuk mencukupi kebutuhan kesejahteraan keluarga.

Gaji per bulan serdadu-serdadu Gurkha itu paling rendah 1000 poundsterling sekitar Rp 16.350.950 dengan masa dinas minimum 15 tahun. Angka itu akan meningkat seiring usia dinas dan naiknya pangkat.

Sementara gaji yang diterima jika jadi anggota Gurkha Contingent paling rendah dalam kisaran 1000 dolar Singapura (sekitar Rp 9,5 juta). Ya, mereka juga ada yang berdinas untuk Singapira, tidak hanya untuk Inggris.

Kini, pasukan dari Resimen Gurkha, yang kini masih dimiliki Inggris, diberdayakan dalam pasukan penjaga perdamaian PBB. Mereka terlibat dalam berbagai operasi di negara-negara Balkan, Timor Leste, Sierra Leone, Afganistan dan Iraq. Meskipun terkenal tangguh dan mematikan, namun dalam situasi tenang pasukan Gurkha dikenal ramah. Mereka punya pembawaan yang tenang, bersahabat, netral dan efisien.