Musik

Menunggu Regenerasi Musik Di Indonesia

Waktu melaju pelan setelah demam musik independen menjangkiti masyarakat di kota-kota besar Indonesia. Saat ini, musik independen atau yang lebih akrab disebut musik indie mampu memberikan jawaban atas pencarian jati diri bagi mereka yang tak menemukannya pada musik mainstream.

Diawali di Bandung dan Jakarta, gelombang ini memperkenalkan pilihan sekaligus perspektif alternatif untuk musik, baik dalam hal konsep musik itu sendiri, proses produksi dan distribusi, hingga cara berpakaian. Sebuh fenomena baru yang sangat berpengaruh bagi pola hidup masyarakat dalam cakupan luas.

Sejak itu, independensi menjadi zeitgeist yang dijunjung tinggi oleh kalangan anak-anak muda. Jika sebelumnya semangat Do It Yourself hanya popular di kalangan skena Punk, namun sejak musik indie memulai ekspansi nya, metode berkarya tersebut semakin umum diterapkan oleh khalayak yang lebih luas. Hasilnya bisa dilihat pada bagaimana jalur-jalur ekspresi menjadi semakin terbuka dengan para pegiat musik yang semakin berani dalam usahanya mencetak eksistensi. Ditambah dengan kanal-kanal online yang mampu menampung segala bentuk ekspresi sehingga semangat youth culture berkembang dengan cukup pesat.

img_8921

Fstvlst, Chicco Jerikho, dan seluruh crowd gigs Rock Freeday | Instagram @rockfreeday

Sudah hampir dua dekade sejak gairah musik indie menyembul, tak banyak yang berubah dalam tatanan pusat perkembangan budaya lokal. Semakin banyaknya pelaku baru bermunculan juga tak banyak terjadi pergeseran besar dalam skena musik sidestream. Setelah melewati masa yang cukup panjang, perkembangan musik independen lokal masih dijalankan oleh nama-nama lama.

Walaupun sering bermunculan wajah-wajah baru, tak banyak yang mampu bertahan. Rumusan konsistensinya masih sulit dicari. Bahasan dalam lingkup skena independen masih terpaut pada prestasi para pelaku awal yang memulai era musik indie di Indonesia

Kondisi tersebut bukan merupakan hal yang sepenuhnya negatif. Sampai saat ini pun penikmat musik indie tak merasa kekurangan suguhan yang berkualitas. Maraknya perbincangan seputar industri ini sebenarnya semakin berwarna dengan pendekatan personal dari para pelaku kepada penikmatnya hingga menciptakan sebuah pergerakkan baru yang dilakukan secara terbuka dan kebersamaan. Satu hal unik yang tentu menarik rasa penasaran banyak orang untuk terus menyelam lebih dalam.

img_8922

White Shoes and The Couples Company, salah satu pelaku awal era musik indie lokal | Instagram @wsatcc

Tetapi dengan keadaan yang demikian, terbesit pertanyaan besar di masa yang akan datang. Kemacetan pergeseran nama pada motor penggerak skena indie mengindikasikan sebuah kegagalan. Sampai saat ini belum ada nama baru yang mampu menciptakan budaya-budaya tandingan untuk bersaing dengan para senior. Bisa dikatakan bahwa regenerasi kekuasaan dalam industri musik indie tidak berjalan.

Konteks regenerasi kekuasaan di sini jauh berbeda dengan bahasan politik. Namun musik pun memiliki dimensi kekuasaan yang harus mengalir demi terus berkembangnya sebuah gagasan. Tanpa adanya penerus, maka sebuah budaya akan tergerus oleh zaman.

Walaupun saat ini hampir setiap hari ada pelaku baru yang mendaftarkan diri pada platform semacam soundcloud atau bandcamp, belum ada yang mampu mensejajarkan diri dengan nama-nama besar musik independen lokal seperti Sore, White Shoes and The Couples Company, atau Efek Rumah Kaca.

musik-1

Salah satu konser Efek Rumah Kaca | Istimewa

Sponsored Links

Betul jika dikatakan dalam beberapa tahun terakhir ada tren positif di skena indie lokal. Terlihat dengan semakin banyaknya label musik independen yang menandai besarnya minat pasar lokal terhadap musik non mainstream. Fenomena Record Store Day yang semakin ramai pada tiap tahun penyelenggaraannya menjadi bukti sahih atas kondisi pasar musik sidestream yang semakin meluas.

Bicara soal kualitas, masih belum ada rekaman dari pelaku baru yang mampu menjadi penanda generasi post-2000 ini. Sekarang ini belum ada yang mampu benar-benar utuh secara kualitas lagu per lagu dan juga tidak banyak inovasi pada konsep artistiknya. Kolamnya memang lebih penuh, namun belum ada ikan baru yang bisa muncul ke permukaan.

Menilik pada awal mula kemunculan musik independen lokal, saat itu ada semangat kolektif yang diusung bersama-sama oleh gerakan indie tua. Baik disadari atau tidak, pada era 2000an ada musuh bersama yang coba dilawan, yakni tren musik melayu.

img_8924

Sore adalah band indie lokal yang eksis hingga saat ini | Instagram @sorezeband

Memiliki musuh bersama membuat visi pergerakan musik independen ketika itu terasa lebih nyata. Gagalnya musik mainstream untuk mengikuti pergeseran pola konsumsi masyarakat diiringi dengan semakin muramnya industri musik tanah air. Terhitung sejak gagalnya solusi fiktif yang disebut Ring Back Tone, posisi musik mainstream semakin buram pada peta musik nasional.

Walaupun kala itu musik independen tetap tak bisa menjangkau cakupan pasar yang lebih luas, loyalitas dan pola konsumsi musik yang lebih tinggi pada musik independen membawa industri ini ke tingkatan yang jauh lebih stabil ketimbang musik mainstream.

Sayangnya setelah sekian tahun, keunggulan posisi musik independen ketimbang musik mainstream ini memunculkan permasalahan baru bagi perkembangan skena independen itu sendiri. Ketiadaan musuh yang harus ditaklukkan bersama membuat skena independen gagal untuk terus berkembang ke arah yang lebih maju. Bisa saja nama-nama besar lama dari skena indie nantinya menjadi semacam orde baru yang terlalu dominan dalam perkembangan musik indie lokal.

musik-tambahan

Penikmat musik merupakan unsur penentu perkembangan musik tanah air | Istimewa

Jika memang diperlukan musuh agar industri musik sidestream dapat berkembang, maka sebenarnya tak usah lagi mencari musuh dari lingkup eksternal. Dengan macetnya tongkat estafet kekuasan dalam skena musik indie lokal, sebenarnya sangat jelas tentang siapa yang harus dilawan untuk terus bisa maju dalam progresi konten musik independen.

Nama-nama baru dari skena indie lokal harus mulai berani bereksplorasi dalam usahanya melangkahi para senior. Namun bukan berarti para pegiat baru harus melakukan konfrontasi negatif terhadap geng orde baru musik independen. Melakukan perlawanan dengan menunjukkan kualitas dalam segala aspek serta berkontribusi dalam mencatatkan prestasi di industri musik adalah cara yang lebih terhormat. Persis seperti yang dilakukan para pendahulu terhadap tren musik melayu 20 tahun silam.

Pertanyaannya sekarang untuk seluruh pihak yang terlibat, sudah siapkah untuk menggantikan nama-nama besar skena independen lokal dengan wajah-wajah baru? Waktu dan kita semua lah yang akan menentukan regenerasi industri musik di Indonesia.