Gaya Hidup

Perjalanan Panjang Kaca Hitam Pelindung Mata

Anda pernah pakai kacamata hitam? Jika ya, mana yang menjadi favorit kalian? Dalam ulasan ini Lanang Indonesia akan menceritakan bagaimana perjalanan sang kaca hitam yang melindungi mata kita ini.

Hadirnya kacamata hitam pertama kali justru bukan untuk melindungi mata dari sinar matahari. Sejarah kacamata hitam ini di awali pada abad ke-15 di Cina, ketika seorang hakim memakainya agar ekspresi wajahnya tidak terbaca saat akan menjatuhkan vonis.

Kehadiran kacamata hitam sebagai pelindung mata dari radiasi sinar UV sendiri bermulai pada awal tahun 1900. Saat itu banyak berita di media massa menghebohkan bagaimana radiasi sinar UV bisa membahayakan mata. Dari sinilah cikal bakal kacamata hitam atau sunglasses bermula.

Melihat fenomena tersebut beberapa produsen kacamata seperti Rodenstock dan Ray Ban, mendesain lensa-lensa yang mampu menahan radiasi UV. Lalu inovasi terhadap komposisi lensa, seperti lensa hygal menjadi sebuah standar baru untuk melindungi mata. Jalan kacamata hitam menuju sunglasses modern pun terbuka.

Penggunaan kacamata hitam pun ternyata bisa menambah nilai pada penampilan. Ini menjadikan penggunaan kacamata hitam semakin tinggi, namun sayang gaya tersebut tak akan bisa dibawa ke dalam ruangan. Seandainya bisa, sang pengguna mungkin akan siap-siap tersandung atau bahkan di cap sebagai tuna-netra.

Tak mau kehilangan eksistensinya, Rodenstock, melakukan inovasi terhadap kacamata hitam dengan penemuan lensa phototropic pada tahun 1968. Lensa ini membuat pigmen warna pada kacamata dapat berubah warna sendiri mengikuti intensitas cahaya di sekitarnya. Lewat temuan ini pula elemen warna pada kacamata sunglasses tidak lagi hanya hitam, meski umumnya tetap diisi warna-warna redup dan pekat.

Kini kacamata hitam digunakan untuk banyak alasan, mulai dari menahan silau, menutupi sakit mata sampai menyembunyikan kondisi emosi. Kalau anda menggunakannya untuk apa?