Sosok

Perjalanan Seni Kontemporer Indonesia Bersama Eko Nugroho

Bagi kalian yang menikmati seni tanah air khususnya seni kontemporer mungkin nama Eko Nugroho tidaklah asing lagi. Seniman asal Yogyakarta ini telah dikenal luas berkat karya-karyanya hingga merek kenamaan di bidang fashion sekelas Louis Vuitton pun pernah berkolaborasi dengannya.

Berbarengan dengan Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 2016, Lanang Indonesia ingin mengupas lebih jauh perjalanan seni kontemporer ini bersama Eko Nugroho. Seperti apa wawancaranya? Check this out bro.

Eko yang merupakan kelahiran asli Yogyakarta ini mengaku jika dirinya sudah tertarik terhadap seni sejak kecil. Hal itu terlihat ketika dirinya sangat senang menggambar hampir di tiap waktu. Ketertarikan itu pun berlanjut saat dia meneruskan sekolah ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan melanjutkan kuliah jurusan seni lukis di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, pada tahun 1997.

illusion-oh-hope_2016_man

Salah satu karya Eko Nugroho di Arario Gallery Shanghai, China 2016 | Danang Sutasoma

 

“Mulai sadar akan profesional bekerja dan berkarya dengan seni rupa sejak tahun 2002, setelah pameran tunggal saya di Cemeti Art House, Yogyakarta. Dari sana saya mulai banyak berkembang dengan berbagai macam project seni,” ucap Eko Nugroho

Baginya semua pameran yang telah dilakoni adalah proses penting dalam kariernya selama ini. Menurutnya setiap pameran karya seni memiliki tantangan, keunikan dan kesan yang berbeda-beda. Maka dari itu ia sangat menghargai setiap proses yang dijalani dan menjadikannya sangat penting.

Membahas perjalanan seni kontemporer Indonesia sendiri Eko Nugroho mengatakan jika perkembangan seni kontemporer Indonesia yang dianggapnya semakin menunjukkan progres positif pasca tahun 1998.

the-dance-corps-series-“the-world-in-phobia”_2016_fiberglass-painted-with-acrylic,-manual-embroidery,-batik-bolster,-batik-table-mat,-short-pant,-belt_173x62x31cm-(1)

Karya Eko lainnya di Arario Gallery Shanghai, China 2016 | Danang Sutasoma

 

“Seni kontemporer di Indonesia sangat berkembang apalagi setelah 98, di mana banyak variasi dan konsep tema dalam berkarya, didukung juga banyak bermunculan generasi seniman muda. Menurut saya kita sangat kaya seni dan seniman. Apalagi di era teknologi yang sangat maju dan canggih ini, kesenian sudah sangat bisa diakses dengan mudah sekali dan ruang pintu kesenian internasional itu sangat tipis sekali dan bahkan bisa dijangkau dengan hitungan detik, menit,” tambahnya.

Perkembangan dunia seni tanah air yang semakin positif membuat dirinya semakin optimis dengan arah kemajuan seni Indonesia. Menurutnya semakin maju dan semakin terbuka ruang dialog antara seniman dengan karya dan juga publik akan menjadikan seni semakin menarik serta dinamis. Dan tantangan-tantangan di depan wacana seni rupa Indonesia ini akan terbuka luas dan kita hanya perlu menunggu mentalitas dan perkembangan kreativitas dari seniman-senimannya itu sendiri.

salihara

Karya-karya  Eko Nugroho di Salihara Gallery, Jakarta 2015 berjudul Landsape Anomaly | Witjak Widhi Cahaya

 

Berkat kragaman budaya yang ada di Indonesia, perkembangan dunia seni tanah air pun semakin kuat dengan karakternya. Hal ini pula yang membuat banyak seniman Indonesia bisa ambil peran di kancah internasional baik yang komersial maupun non-profit.

“Indonesia terutama di Asia Tenggara ini termasuk banyak seniman yang cukup muncul/populer di kancah internasional dibanding negara-negara tetangga Asia lainnya. Setelah Cina dan Thailand, seniman Indonesia cukup menonjol juga. Bisa kita lihat di event internasional baik yang komersial -dalam hal ini art fair, pameran komersial- ataupun project-project non-profit internasional, seperti trienale, bienale, simposium seni,” imbuh Eko.

Di akhir wawancara Eko juga mengungkapkan pendapatnya atas apresiasi masyarakat terhadap seni yang semakin baik. Menurutnya perubahan global dan sikap keterbukaan membuat masyarakat Indonesia semakin menaruh perhatian lebih untuk segala bentuk kesenian.

2015_landscape-anomaly,-salihara,-jakarta-(2)

Karya lainnya di Salihara Gallery, Jakarta 2015 | Witjak Widhi Cahaya

 

“Seiring berubah dan perkembangannya jaman, masyarakat kita sudah cukup terbuka saat ini. Sekali lagi pasca 98, banyak ruang-ruang demokrasi atau justru wacana demokrasi ini yang membawa keterbukaan pola pikir atau pemahaman masyarakat itu sendiri akan banyak hal, salah satunya adalah pada kesenian,” tutup Eko.

Saat ini Eko Nugroho juga turut terlibat dalam pameran Indonesia Contemporary Art & Design 2016 (ICAD), dengan menyumbangkan sebuah mural berjudul “Menyusun Serpihan Pelangi” yang seakan menjadi penyambut para pengunjung ICAD karena letaknya di sebuah tembok masuk ke lokasi pameran di grandkemang Hotel Jakarta.