Seni

Siasat Seni Memperbaiki Nalar Ala Tisna Sanjaya

Seperti kita sama-sama tahu, seni adalah produk manusia yang begitu indah dan misterius, seni tak hanya sebagai sebuah ilmu yang memberi hiburan semata. Sepanjang perjalanannya, sejarah juga mencatat seni merupakan medium perjuangan yang terbukti efektif dalam meraih suatu tujuan.

 

Tisna Sanjaya yang terkenal sebagai seniman jeprut, seringkali menunjukkan ekspresionismenya dengan meledak-ledak, meskipun tak jarang juga dengan begitu kontemplatif. Dalam pameran “Potret Diri Sebagai Kaum Munafik”  Tisna Sanjaya terlihat sigap menanggapi kondisi yang ada.

Berangkat dari kegelisahan sosial yang seringkali menunjukkan perselisihan akan sebuah keyakinan. Tisna Sanjaya coba berdiri melalui karyanya untuk mengajak setiap orang mengkritisi isu-isu sensitif yang tak layak ditunjukkan. Baginya seni harus bisa menghidupkan nalar agar tetap bisa mengkritisi sesuatu secara mapan dan tak terpaku terhadap suatu dogma.

Dalam sebuah diskusi dan pertunjukkan seni, beberapa hari lalu, di Galeri Nasional, Jakarta, Tisna Sanjaya mengungkapkan sisi terdalam dari bagaimana merenungi hidup dengan karya seni. Karya-karya seni yang ditampilkan dalam pameran ini pun begitu kuat dengan pesan-pesan yang tak hanya berlaku untuk segelintir orang, namun juga untuk siapa saja yang mengonsumsinya.

Beberapa karya plat etsa yang ditampilkan Tisna bahkan  mengangkat sifat-sifat keindahan sang pencipta. Lalu masalah lingkungan tanpa malu ia bawa ke dalam ruang pameran dengan menampilkan sampah sungai Citarum secara telanjang.

Bagi Tisna, seni bukan hanya keindahan yang memuaskan mata atau indera belaka, tapi juga bisa menyadarkan dan menghidupkan nalar. Tisna menjadi contoh bagaimana seni mampu memperbaiki nalar manusia yang rusak oleh distorsi informasi. Mencoba menemukan nilai-nilai kemanusiaan, tentang bagaimana manusia selayaknya.

Hal ini diamini oleh Sastrawan Goenawan Mohammad yang juga menjadi pembicara dalam diskusi tersebut bersama Tisna Sanjaya dan kurator Rizky A. Zaelani. ‘

GM (sapaan akrab Goenawan) menyetujui jika seni rupa yang baik bukan dari konsep tapi dari pengalaman. Ia akan menyatu dalam setiap wujud, karena pengalaman akian mempengaruhi setiap gerak-gerik.

“Karena konsep sejatinya harus memeluk,” kata Goenawan Mohammad.

Seni tak ubahnya seperti udara, kotor atau bersih, akan tetap dihirup oleh manusia dan mempengaruhinya secara langsung.