News

SIPALAGA Siap Hadapi Potensi Kebakaran Hutan 2019

Apa yang ada di ingatan kalian soal kebakaran hutan/lahan? Ya, bro kebakaran hutan dan lahan adalah bencana regional yang merugikan kita dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand dll. Terjadi hampir setiap tahun dan pernah secara masif pada tahun 2013 dan 2015. Banyak pihak yang harus bekerja keras untuk mencegah bencana ini salah satunya adalah Badan Restorasi Gambut (BRG) dengan sistem teknologinya yang bernama SIPALAGA.

Gambut sendiri adalah lahan basah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk. Dalam keadaan tergenang air gambut akan menjadi lahan yang aman dari api, namun saat musim kemarau dengan menurunnya ketinggian air gambut seperti serpihan kayu bakar kering yang siap terbakar kapan saja. Dahsyatnya lagi tercatat ada lebih dari 12 juta hektar lahan gambut di Indonesia bro.

“SIPALAGA merupakan bentuk komitmen BRG untuk menyediakan data dan informasi lewat teknologi pemantauan tinggi muka air di seluruh lahan gambut yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan. Tahun 2018 ini telah terpasang 142 alat pantau di 7 provinsi prioritas dan pada 2019 ini akan dipasang 30 lagi alat pantau,” ungkap Deputi Bidang Peneliti dan Pengembangan BRG, Haris Gunawan, Rabu (16/1/2019).

ddsa

Interface dari SIPALAGA | BRG

Lantaran 40% lebih kebakaran hutan di Indonesia terjadi di lahan gambut maka BRG dengan SIPALAGA (Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut) menjadi salah satu pihak yang membantu pencegahan kebakaran hutan.

SIPALAGA sendiri adalah sistem yang terintegrasi dari alat pantau berupa pengukur yang bisa mengirimkan data telemetri tentang ketinggian air, curah hujan dan kelembapan lahan gambut. Data-data tersebut dikirimkan secara real-time ke dalam interface yang bisa dilihat di http://sipalaga.brg.go.id/.

Data ini sangat penting untuk banyak pihak di mana kita bisa memantau secara langsung lahan-lahan gambut yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan.

Sponsored Links

Bagi kalian yang tinggal di Pulau Jawa mungkin tidak terdampak langsung oleh kebakaran hutan ini. Namun FYI bro, berdasarkan data BNPB kerugian finansial pada kebakaran hutan tahun 2015 tercatat Rp221 triliun. Biaya pemadaman yang dikeluarkan hingga Rp720 miliar. Kalau sudah bicara kerugian seperti ini jauh lebih baik mencegah daripada mengatasi bukan?