Relationship

Sjahrir & Maria, Cinta Beda Warna Juga Benua

Siapa yang tak kenal Sutan Sjahrir seorang revolusioner kemerdekaan Indonesia yang menjadi perdana menteri pertama Republik Indonesia. Namanya bisa disandingkan dengan sederet tokoh pahlawan lainnya, begitu juga dengan jasanya. Semua orang tahu pemikirannya tapi tidak dengan kisah cintanya. Di hari kasih sayang ini, 14 Februari 2018, mengetahui kisah cinta Sjahrir rasanya lebih mengasyikkan daripada mengetahui rasa cokelat.

Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909. Usai mencetuskan Sumpah Pemuda pada Oktober 1928, Sjahrir pergi ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam. Di sana Sjahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme.

Setibanya di negeri kincir angin pada 1929, Sjahrir lebih sering bergiat bersama gerakan buruh Eropa ketimbang mengisi bangku kuliah. Kesibukan ini pula yang membuatnya bertemu dengan seorang sosialis demokrat bernama Salomon Tas alias Sal Tas yang merupakan sahabat pertama dan terpentingnya di Belanda. Mereka begitu dekat karena sama-sama antikolonialisme.

Saking dekatnya hubungan mereka, Sjahrir pernah tinggal di apartemen Sal Tas. Ia tak hanya berdua, Sjahrir tinggal bersama Maria Johanna Duchateau, istri Sal Tas ditambah dua anak mereka, serta Judith van Wamel, yang merupakan sahabat perempuan Maria.

Hari berganti interaksi pun terjalin, dari sinilah kisah romansa Sjahrir dengan Maria bermula. Sjahrir hadir di saat hubungan rumah tangga Maria dan Tas sedang abu-abu. Kesibukan Tas yang lebih mengurusi politik ketimbang keluarga membuat Sjahrir memberi perhatian lebih kepada Maria dan anak-anaknya. Belakangan Tas pun diam-diam punya hubungan dekat dengan Judith, sahabat Maria. Pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya Maria jatuh cinta pada Sjahrir yang cerdas, tenang dan jenaka.

Meski terlibat kisah cinta terlarang, namun kisah percintaan mereka baik-baik saja. Persahabatan Sjahrir dan Tas pun tetap berjalan dengan baik. Perjuangan melawan kolonialisme bagi mereka lebih penting ketimbang mengurusi isu percintaan.

Rumah tangga Maria dan Tas semakin renggang, Maria pun akhirnya memutuskan untuk pisah rumah. Tapi kisah cintanya dengan Sjahrir tetap berlanjut. Maria punya panggilan kesayangan untuk Sjahrir: Sidi. Begitupun Sjahrir yang punya panggilan kesayangan untuk Maria: Mieske. Sayang keduanya harus berpisah, pada November 1931, Sjahrir kembali ke tanah air untuk bergabung dengan kelompok pergerakan dan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) Baru bersama Bung Hatta.

Jarak sepertinya bukan halangan bagi mereka, Sjahrir dan Maria tetap merajut kasih melalui sepucuk surat. Rindu berat pun membuat niat Maria semakin kuat. Setelah proses perceraiannya dengan Tas selesai, Maria menyusul Sjahrir ke Indonesia bersama dua anaknya. Tepat empat bulan setelah Sjahrir meninggalkan Belanda.

“Empat bulan setelah Sjahrir meninggalkan Belanda, Maria menyusul dan berencana hidup bersama, bersamanya anak laki-laki dan anak perempuannya [dari perkawinan dengan Sal Tas]. Sjahrir berlayar dari Betawi (Jakarta) menuju Medan dan bertemu Maria yang berangkat dari Colombo (Sri Lanka),” tulis Rudolf Mrazek dalam buku biografi Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia (1994).

Pada 10 April 1932, di sebuah Masjid di kota Medan, Sjahrir dan Maria akhirnya menikah. Mereka tinggal di sebuah rumah di kota Medan, berbelanja sehari-hari di Pasar Kesawen, ataupun sekedar berjalan santai bergandengan tangan mesra di Grand Hotel yang saat itu terlarang bagi pribumi. Kalau cinta sudah melekat, ikan asin pun rasa cokelat. Kira-kira begitulah yang dirasakan Sjahrir, rasa cinta membuatnya tak sadar akan dampak dari pernikahannya dengan Maria.

Pertama, Maria adalah wanita Belanda, mau bagaimanapun saat itu derajat Maria lebih tinggi ketimbang pribumi macam Sjahrir, meskipun ayah Sjahrir adalah seorang Jaksa. Kedua, aturan agama melarang untuk nikah beda keyakinan, meskipun mereka menikah secara Islam, namun Maria belum merubah keyakinannya.

maria-duchateau1-1

Maria Duchateau di Santpoort, Belanda, 22 Maret 1946 | Dok. Meijer/Het Nationaal Archief

Hal ini akhirnya mengantarkan mereka pada pergunjingan sosial, tak hanya dari kalangan pribumi, orang-orang Belanda pun ikut menggunjing mereka. Gosip akan pernikahan Sjahrir bahkan sampai membuat De Sumatra Post, Koran terbesar di Medan memuat berita terkait berjudul “Perempuan Bersarung Kebaya Di Bawah Pengawasan Polisi” pada 13 Mei 1932. Pihak berwenang di Medan, terutama ulama setempat, menyatakan pernikahan Sjahrir dan Maria batal, alias tidak sah.

Dalam buku Sutan Sjahrir, Pemikiran dan Kiprah Sang pejuang Bangsa karya Lukman Santoso Az, disebutkan jika pernikahan Maria dan Sjahrir dibatalkan pada 5 Mei 1932 oleh aparat setempat. Lima hari kemudian Maria dipulangkan ke Belanda. Maria sedang mengandung anak dari Sjahrir ketika pergi dari Indonesia, anaknya pun meninggal ketika dilahirkan.

Pernikahan mereka hanya bertahan selama lima bulan. Nahas, setelah itu Sjahrir dan pimpinan PNI lainnya ditahan lalu diasingkan ke Boven Digoel. Tiket kapal SS Aramis yang sudah dipesannya jauh-jauh hari untuk menyusul Maria menjadi sia-sia. Sebelum dibuang ke Boven Digoel, Sjahrir lebih dulu ditempatkan di penjara Cipinang, di sini, Sjahrir tetap berkabar via surat kepada Maria.

“Makin lama aku makin banyak melupakan apakah selera dan perangsang itu. Aku kini menganggap makan sebagai kewajiban, dan dengan demikian rasa kenyang beralih dari makan ke arah yang dimakan, kira-kira cara yang sama dengan orang yang merasa puas menyelesaikan sebuah pekerjaan. Kepuasan rohani dari jiwa lebih banyak daripada kepuasan hawa nafsu perut jadi kepuasan dengan spiritualital 'yang lebih tinggi'. Kamu dapat melihat apa yang ditekan jika makan memakai semangkok dari kaleng," tulis Sjahrir dalam suratnya untuk Maria.

Bagi Sjahrir surat tersebut merupakan pelipur lara satu-satunya dan menjadi penyelamat dirinya dari depresi. Apa pun diceritakan oleh Sjahrir kepada Maria, mulai dari makanan sampai ukuran sel yang tak seberapa. Pada 16 November 1934, diputuskan jika lima pimpinan PNI diasingkan ke Boven Digoel. Bung Hatta dan Sjahrir termasuk di dalamnya. Hatta dan Sjahrir tak panik meskipun mereka cemas akan wabah malaria di sana. Mereka  menganggap pengasingan tersebut sebagai tamasya yang belum ditentukan kapan akhirnya.

Perjalanan menuju Boven Digoel juga diceritakan Sjahrir kepada Maria dengan pandangan lebih optimis. Dia juga menceritakan buku-buku bacaanya selama menjadi tahanan. Sjahrir bercerita mengenai interaksinya dengan "orang buangan" di Digoel yang tak terpelajar. Selama di pengasingan Sjahrir memang menjadi aneh, ia berkeliling dengan perahu menyusuri Sungai Digoel, berenang, sampai bermain bola. Sjahrir pun akhirnya dikenal sebagai pengelana jenaka.

Bagi Sjahrir, Maria adalah motivasinya untuk tetap semangat menjalani kerasnya hidup. Semenjak ibunya meninggal, baru kali ini Sjahrir, begitu sungguh-sungguh berbicara dengan wanita. Tercatat sejak 1931 sampai 1940, Maria menerima sebanyak 287 surat dengan panjang 4 sampai 7 halaman dari Sjahrir.

Surat-surat ini sempat ingin dibakar oleh Maria, namun berkat bantuan adik Sjahrir, Sutan Sjahsyam, surat-surat tersebut berhasil dibukukan dengan judul Indonesische Overpeinzingen. Buku tersebut diterbitkan di Amsterdam pada 1945 dengan menggunakan nama samaran untuk Sjahrir, yakni Sjahrazad.

Kisah unik, manis dan rumit ini pun harus benar-benar berakhir ketika Perang Dunia II dan Perang Kemerdekaan Indonesia pecah. Keduanya terputus kontak, hingga akhirnya perceraian memisahkan mereka pada 1948.

Kisah Sjahrir tak ada bedanya seperti kisah Tragedi Yunani, ketika Paris mengambil Helene dari suaminya Menelaos, raja Sparta. Bedanya hanya mereka tak menyebabkan peperangan, justru peperangan yang memisahkan mereka. Selamat Hari Kasih Sayang semuanya, semoga kisah cinta Bung Sjahrir bisa mendewasakan kita dalam melihat cinta.