Seni

Soemardja Sound Art Project, Fenomena Bunyi Dalam Eksplorasi

Seni bunyi atau sound art kembali digelar, tak terasa sebelas tahun berlalu sejak penyelenggaraan perhelatan sound art di Galeri Soemardja bertajuk Good Morning: City Noise!!! Sound Art Project pada tahun 2007. Kali ini perhelatan olah bebunyian tersebut kembali hadir namun dengan format, gagasan, serta nama yang baru, yakni Soemardja Sound Art Project.

Apakah sobat lanang sudah pernah mendengar seni bunyi? Seni ini tak sama dengan seni musik, meski sama-sama menghasilkan suara. Istilah sound art sendiri bukanlah istilah baru karena penggunaannya sudah dimulai sekitar 20 tahun yang lalu. Alan Licht, seorang komposer asal Amerika Serikat, cukup berjasa dalam perkembangan kajian sound art dengan menerbitkan sebuah buku berjudul Sound Art: Beyond Music, Between Categories pada tahun 2007.

“Bagi orang yang lebih prinsipiil, segala bentuk manipulasi hanya akan mengotori hakikat bunyi sebagai bunyi. Hendaklah bunyi ditanggalkan dari anasir arti, asosiasi, pretensi dan manipulasi agar dapat mencapai derajat kemurniannya yang tertinggi.”   Ucap Priyanto Sunarto (1979).

Kutipan Seniman Priyanto Sunarto hadir dalam era Gerakan Seni Rupa Baru. Di mana kutipan tersebut menawarkan gagasan ‘baru’ yang bisa dibilang beririsan: makna atau hakikat bunyi; dan seni (be) bunyi (an). Meski sebenarnya berbeda, namun pemikiran Priyanto menjadi jalan pembuka terhadap orang untuk mengeksplorasi lebih dalam seni bunyi itu sendiri.

Untuk merefresh kembali memori dan kepekaan penikmat seni, rangkaian perhelatan Soemardja Sound Art Project sudah dilaksanakan sejak Januari hingga awal Maret 2018, di Lawangwangi Creative Space, Institut Francais Indonesia dan Spasial.

Melalui kerja sama dengan beberapa institusi tersebut, Soemardja Sound Art Project membagi gagasan besarnya ke dalam tiga tahap perhelatan: Double-Coding Sonic Art yang menekankan pada aspek historis sound art; kemudian dilanjutkan dengan Immersed in Sonic Flux yang mengelaborasi fenomena bebunyian melalui eksplorasi bentuk pertunjukan bunyi; hingga Perceiving the Omnipresent Sound yang terfokus pada aspek spasial bunyi dan individu pencerap.

Memanfaatkan ruang pamer Galeri Soemardja dan beberapa area di Gedung Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, Soemardja Sound Art Project akan dibuka pada 29 Maret – 19 April 2018. Pembukaan akan di awali oleh INTERAKTA di Visual Art Building. Pameran yang diikuti oleh 22 seniman ini dikuratori oleh Bob Edrian.

Soemardja Sound Art Project kali ini akan terbagi ke dalam tiga sesi pameran, yakni Pameran Utama; Pameran Mahasiswa Intermedia (INTERAKTA); dan Pertunjukan Bunyi. Perhelatan Soemardja Sound Art Project diharapkan dapat memperluas wacana, eksplorasi, serta pengkajian terkait dengan seni bunyi atau sound art di Indonesia.

Pameran yang juga didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Institut Francais Indonesia ini akan memperluas khazanah seni bunyi kita. Para partisipan yang terlibat pameran ialah Abshar Platisza, Andrita Y. Orbandi, Aulia Yeru, Bagus Pandega, Delpi Suhariyanto (INTERAKTA), Ephraim Tan (INTERAKTA), Eka Yuliarti (INTERAKTA), Invalid Urban, Iqbal Prabawa Wiguna, Jompet Kuswidananto, Julian Abraham “Togar”, Lintang Radittya, M. Akbar, Mira Rizki Kurnia, Moch. Hasrul, P. Mawar A. (INTERAKTA), Riar Rizaldi, Theo Nugraha, Tomy Herseta, Tromarama, Salman Pangestu (INTERAKTA), Syafira (INTERAKTA).

Buat semua sobat lanang yang berada di Bandung dan sekitarnya bisa langsung merapat ke acara ini. Mengingat tak banyak pameran yang menampilkan seni bunyi maka adanya pameran ini akan menjadi momen yang cukup spesial.