Sosok

Strategi Hefner Mendesain Majalah Playboy

Mungkin peran Hugh Hefner sebagai ikon Playboy sudah terhenti, namun sosoknya akan terus melekat sebagai pria yang sukses melejitkan Playboy sebagai bacaan wajib pria dewasa. Dalam hal ini kita tak akan membahas konten Playboy, tapi bagaimana Hugh Hefner mendesain majalah yang masuk tiga terlaris di Amerika Serikat ini.

Majalah Playboy terbit pertama kali pada Desember 1953, dengan berita dan cover fenomenalnya, yaitu foto Marylin Monroe tanpa busana. Dalam edisi pertama tersebut Hugh Hefner sengaja tak mencantumkan tanggal terbit, itu karena ia khawatir majalah tersebut tak laris sehingga bisa dijual tanpa batas waktu.

Boleh saja Hugh Hefner ragu akan masa depan majalahnya, tapi pada kenyataannya, Playboy selalu bersaing dengan majalah Time dan Life untuk urusan jumlah oplah. Mungkin memang isu maskulinitas pada era 50-60an bukanlah hal yang lazim, tapi ide Hugh Hefner untuk membuat majalah tersebut dianggap sebagai simbol progresif dalam budaya modern masyarakat Amerika.

Konten berita yang matang dan mapan membuat kelas pembaca Playboy melewati perkiraan Hugh yang awalnya hanya kalangan pria modern. Pembaca Playboy bahkan sudah lintas kelas, kelamin, ras bahkan ideology, sungguh menakjubkan, bukan?

Entah melalui proses riset atau tidak, Hugh rutin menulis feature tentang bagaimana menjadi seorang “pria”. Ia rutin menuliskan rekomendasi pilihan pria sejati lewat alkohol, musik, pakaian, makanan, seni, bahkan sastra. Meskipun tak benar-benar faktual, tapi tulisannya diamini oleh ratusan ribu pembaca pria.

Sadar atau tidak, karena hal itu Playboy menjadi pedoman baru para pria tentang bagaimana menjadi pria modern. Mulai dari aktor, manajer sampai pekerja biasa meniru apa yang ditulis oleh Hugh. Dan dampak terbesarnya ialah, Hugh mampu membawa perubahan pola pikir para pria, khususnya di Amerika Serikat.

Sadar Playboy mampu membawa perubahan besar, Hugh Hefner pun memperluas jangkauan Playboy, ke berbagai bentuk media seperti: penerbitan, perizinan penggunaan nama Playboy komersial, Playboy TV, dan hiburan. Majalah denga logo kelinci putih berdasi ini juga memperluas rubrik ulasannya. Hugh yang juga merupakan veteran Perang Dunia II, mulai menjadi aktivis politik dan seorang filantropis yang aktif dalam persoalan sosial.

Para pria yang punya ketertarikan dengan politik dan sosial pun mulai melirik Playboy sebagai bacaan wajib. Keberanian Playboy patut diacungi jempol, tak hanya menyajikan foto-foto sensual, Playboy juga memuat artikel, olahraga, barang-barang komersial dan wawancara dengan tokoh tokoh ternama seperti: Bob Dylan, Michael Jordan, Bill Gates dan Mohammad Ali.

Playboy juga pernah melakukan wawancara fenomenal dengan Fidel Castro, Yasser Arafat, Moammar Khadafi dan Malcolm X. Selain itu, banyak penulis fiksi senior seperti: Margaret Atwood, Tom Clancy, Roald Dahl dan Arthur C. Clark membuat cerita pendek mereka di Playboy yang kemudian menjadi tulisan yang terkenal.

Meskipun membawa perubahan yang signifikan, Playboy tetaplah majalah yang membawa konten sensual. Tak jarang karena hal itu kehadirannya ditolak dibanyak Negara, seperti   RRT, Korea Selatan, India, Myanmar, Malaysia, Thailand, Taiwan, Singapura dan Brunei. Di Amerika Serikat pun sebagai tempat kelahiran Playboy, tak mudah untuk mendapatkan majalah ini. Hanya ada di toko-toko minuman keras dan ada di rak tertinggi.

Mungkin Playboy membawa kontroversi, tapi di sisi lain dia juga membawa perubahan. Positif-negatifnya kami serahkan kepada anda sebagai pembaca.